Langsung ke konten utama

Sekilas tentang Pemira IKM FIB UI 2016 (bagian III - habis)

Lanjutan...

     Penghitungan suara Pemira IKM FIB selesai sekitar pukul 12 malam di tanggal 16 Desember 2016. Hasil penghitungan suara dari sebagai berikut:


  • Pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FIB UI 2017 nomor urut.1 atas nama Averous Ibrahim Noor Esa (Arkeologi 2014) dan Ida Farida (Rusia 2014) memperoleh sebanyak: 993 suara.
    • Tidak memilih (nomor urut 2) memperoleh sebanyak 337 suara.
    • Abstain sebanyak 8 suara.
    • Tidak sah sebanyak 20 suara.
  • Anggota Independen DPM FIB UI 2017:
    • Nomor urut 1 atas nama Ahmad Faisal (Arab 2014) memperoleh sebanyak 681 suara.
    • Nomor urut 2 atas nama Ulfa Rodiah (Ilmu Sejarah 2014) memperoleh sebanyak 578 suara.
    • Abstain sebanyak 13 suara.
    • Tidak sah 92 suara.
Hasilnya, Averous dan Ida dinyatakan resmi menjadi Ketua dan Wakil Ketua BEM FIB UI 2017 serta Ahmad Faisal dan Ulfa Rodiah resmi menjadi Anggota Independen DPM FIB UI 2017.

       Namun, ketika diakumulasi dan dilakukan pengecekan ulang, jumlah suara yang masuk untuk BEM dan DPM berbeda. Hal tersebut akhirnya membuat panitia (beserta Badan Pengawas, DPM, dan para kandidat) harus menghitung kembali dan mencocokkan data berulang kali. Kesimpulannya, setelah dilakukan pengecekan tersebut adalah bahwa kesalahan yang terjadi karena human error karena sistem yang digunakan untuk mendata pemilih adalah sistem manual, bukan e-vote
        Sehingga, suara yang masuk disahkan dan disepakati oleh para kandidat. Khususnya perbedaan yang cukup jauh tersebut disepakati oleh para kandidat untuk pemilihan anggota independen DPM. Kesimpulan dan kesepakatan tersebut lahir karena setelah melakukan pengecekan berulang, para kandidat, panitia, badan pengawas, dan penyelenggara (dalam hal ini DPM) melakukan musyawarah untuk nantinya melakukan rilis berita kepada IKM FIB UI. Musyawarah selesai sekitar pukul 1 dini hari, Sabtu, 17 Desember 2016.
         Malamnya, para kandidat terpilih dan panitia pengeluarkan rilis berita (press release) terkait hasil Pemira IKM FIB UI 2016 untuk IKM FIB UI melalui media sosial masing-masing. Selengkapnya, dapat dibuka pada link berikut:

Bukti foto (panitia)  di sini 
Data Pemilih (panitia) di sini juga dan masih di sini
Rilis para kandidat terpilih bisa dilihat di akun media sosial line masing-masing. 

         Agenda selanjutnya, dari suksesi yang berlangsung setelah pemilihan raya adalah serah terima jabatan kepengurusan 2016 kepada kepengurusan 2017 baik dari BEM dan DPM FIB UI yang berlangsung pada hari Kamis, 22 Desember 2016 di Auditorium Gedung IX FIB UI. Ditetapkan Averous Ibrahim Noor Esa dan Ida Farida sebagai Ketua dan Wakil Ketua BEM FIB UI 2017. Berdasarkan hasil musyawarah internal (kandidat terpilih), ditetapkan Ahmad Faisal sebagai Ketua Umum DPM FIB UI 2017 dan Ulfa Rodiah sebagai Sekretaris Umum DPM FIB UI 2017. Setelah dilakukan serah terima jabatan, dilakukan pengambilan sumpah atas para pemegang kepengurusan untuk periode 2017 dipimpin oleh Danang Satria Darmalaksana (Ketua Umum DPM FIB UI 2016) dan Moch. Agus Fuat (Ketua BEM FIB UI 2016).
       Selain itu, agenda setelah serah terima jabatan adalah penyampaian Laporan pertanggungjawaban Panitia Pemira IKM FIB UI 2016 dilaksanakan pada hari Jumat, 23 Desember 2016 di ruang 9203 (ruang DPM FIB) dan dilanjutkan di ruang 9207 FIB UI. Hasilnya, laporan diterima degan syarat harus dilengkapi pada bagian yang masih kurang, baik dari segi diksi dan juga lampiran yang belum dimasukkan.

Demikian sekilas tentang Pemilihan Raya IKM FIB UI 2016! Semoga bisa menjadi refleksi bagi kita semua untuk senantiasa melakukan perbaikan ke depannya atas apa-apa yang masih kurang di tahun 2016 (tidak hanya dalam soal pemilihan raya). Terima kasih sudah mau menyimak tulisan-tulisan seputar pemira (dan yang lainnya).

Selamat dan semangat melanjutkan perjalanan, sejatinya, ini bukanlah akhir, ini adalah sebuah awalan (baru). 

Salam hangat,
Ulfa Rodiah




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...