Langsung ke konten utama

Sekilas tentang Pemilihan Raya IKM FIB UI 2016 (bagian I)

      Pada tahun 2016, dibentuklah sebuah kepanitiaan bernama Kepanitiaan PEMIRA IKM FIB UI 2016. Hal yang berbeda dari kepanitiaan tersebut di tahun ini yaitu ketua pelaksana yang berasal dari internal DPM FIB UI yang merupakan penyelenggara kegiatan tersebut. Kejadian tersebut bukan tanpa sebab, awalnya ketika sudah dilakukan masa pendaftaran (sebut saja open tender)  bagi Tim Pelaksana tetapi tidak ada yang mendaftar sama sekali. Kemudian masa pendaftaran diperpanjang oleh  DPM FIB UI, tetapi hasilnya nihil, tidak ada yang mendaftar sama sekali hingga masa perpanjangan pun ditutup.
      Akhirnya, dengan mengumpulkan seluruh anggota mandataris dan independen (ditambah anggota Badan Kelengkapan) DPM melakukan pleno untuk menentukan siapa yang akan menjadi ketua pelaksana kegiatan tersebut. Rapat berlangsung, setiap orang menyampaikan pandangannya (berikut saran dan masukannya) terkait siapa yang cukup layak untuk dijadikan ketua pelaksana. Berikutnya, musyawarah, dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, waktu yang tidak banyak, SDM yang tidak banyak yang bisa diandalkan, rapat pleno menghasilkan satu keputusan. Tommy Dwiguna, Ilmu Sejarah 2015, Mandataris SKS UI 2016 ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana PEMIRA IKM FIB UI 2016.
    Hari-hari setelahnya adalah pencarian PI-BPH yang akan mendampingi Tommy. DPM mengadakan pleno kembali untuk mendengarkan saran/rekomendasi siapa saja yang kia-kira bisa mengisi mengisi banyak bidang yang ada dalam kepanitiaan PEMIRA IKM FIB UI 2016. Rekomendasi tersebut dimulai dari rekomendasi pengisian PI seperti wakil ketua dan bendahara serta BPH untuk bidang lain seperti bidang konsumsi, keamanan, kesekretariatan, acara, hpdd, dan juga perlengkapan.


Bersambung....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...