Langsung ke konten utama

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa.

Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar.


Terinspirasi dari buku Mark Manson, tentang seni untuk bersikap bodo amat. Mengingatkan saya khususnya untuk mulai sadar dan segera mengubah 'kebijakan' pembagian rasa peduli. Bahwa rasa peduli kita jumlahnya terbatas, oleh karenanya perlu diberikan pada hal-hal yang signifikan bagi diri kita sendiri dan tidak membuat kita justru merasa 'tersiksa' karena memedulikan segala hal. Bahwa menjadi berbeda, bukan sebuah hal yang memalukan ketika itu membuat diri kita nyaman dan memang tidak berpura-pura. Secara garis besar, di dalam bukunya, Mark menyampaikan tiga poin utama.
Pertama, masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda. Maksudnya apa? Maksudnya ya dalam hidup kita, itu, sudah pasti kita memedulikan sesuatu, sudah fitrahnya kita sebagai seorang mahkluk sosial. Nyaman saat kita memilih melakukan segala sesuatu atas dasar tujuan pilihan kita sendiri, tentu dengan percaya diri. Masa bodoh terhadap apa kata orang lain, sebesar atau sesulit apapun tantangan, atau kemungkinan gagal yang sangat besar. Yang terpenting, kita sadar bahwa hal yang tersebut tepat untuk kita pilih untuk kita lakukan.

Kedua, untuk bisa mengatakan bodo amat pada kesulitan, pertama-tama anda harus peduli pada sesuatu yang lebih penting dari kesulitan. Kita punya kecenderungan untuk memedulikan hampir semua hal, tetapi kita akhirnya harus memilih hal-hal yang berharga saja untuk kita perhatikan. Ibaratnya, bodo amat dengan hal-hal tidak penting dan tidak memberi manfaat sama sekali pada proses hidup kita. Saya sepakat pada pesan Mark, karena jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna dan sembrono. Ini seperti sebuah nasihat dalam agama saya (Islam, insyaAllah), jika kita tidak disibukkan oleh kebaikan...kita akan disibukkan oleh hal yang sebaliknya.

Ketiga, entah Anda sadari atau tidak, Anda selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan. Orang-orang sama sekali tidak dilahirkan dalam kondisi tanpa kepedulian. Hal ini tentang kedewasaan. Kedewasaan muncul ketika seseorang belajar untuk peduli hanya pada sesuatu yang sangat berharga. Kita bisa menyisihkan perhatian kita yang semakin berkurang untuk hal yang benar-benar layak dalam kehidupan kita...seperti keluarga, teman-teman terbaik kita, dan hal yang membuat kita menjadi versi terbaik kita. 

Iya, kurang lebih begitu. Selamat (setidaknya) berlatih untuk bersikap bodo amat.


_____
@ulfa.rodiah
Depok, 10 November 2018 (disunting pada 6 Januari 2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...