Sungguhan sampai pukul 12 malam lewat sekian menit aku masih bisa menahan kantuk. Aku memutuskan untuk membaca beberapa koran yang belum habis terbaca.
Ada sebuah tulisan yang menarik, jadi aku putuskan untuk menulisnya di sini. *hanya kutipannya, dua paragraf terakhir*
Ada sebuah tulisan yang menarik, jadi aku putuskan untuk menulisnya di sini. *hanya kutipannya, dua paragraf terakhir*
_____________
….
….
“Jeda Ramadhan memberi momen refleksi diri, memulihkan tenaga rohani untuk membakar benalu yang mengerdilkan moralitas. Ramadhan memberi kesadaran bahwa hasrat menimbun dan berkuasa tak pernah ada puasnya kecuali dengan puasa. Pengendalian dirilah akar tunjang pengendalian sosial. Adapun puasa bak kawah candradimuka pelatihan kendali diri.
Sekiranya semua warga mampu berpuasa sungguhan, gumpalan lemak yang berlebih di satu kelompok bisa disalurkan menjadi energi hidup bagi kelompok lain, tidak menjadi kolesterol keserakahan yang memicu kelumpuhan sosial. Seperti dedaunan yang jatuh di musim gugur bisa memupuk rerumputan di bawah dan sekitarnya. Sesekali kita pun perlu meranggas; membiarkan kelakuan terbakar, tersungkur sujud; menginsafi keagamaan yang menerbitkan hasrat untuk berbagi, membuka diri penuh cinta untuk yang lain.”
Yudi Latif
Anggota Asosiasi Ilmuwan Politik Indonesia
“Puasa yang Gugur dan yang Subur”
-Kompas, Selasa, 14 Juni 2016, hal. 15-
Selengkapnya:
Komentar
Posting Komentar