Langsung ke konten utama

Mekanisme Fakultas Pemilihan Perwakilan IKM FIB UI untuk DPM UI 2017

Di awal kepengurusan DPM FIB UI 2017, program kerja yang menjadi tugas pertama adalah melaksanakan mekanisme fakultas(*). Mekanisme fakultas merupakan satu cara untuk memilih atau menentukan perwakilan FIB di tingkat Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UI periode 2017. Mekanisme fakultas dilaksanakan ketika tidak ada perwakilan dari fakultas yang maju melalui mekanisme pemilihan raya atau Pemira. Ketentuan tersebut termuat di dalam Undang-Undang Dasar Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia (UUD IKM UI) (hasil perubahan pada tahun 2015) yaitu pasal 26 ayat 2 UUD IKM UI mengenai pemilihan perwakilan fakultas melalui mekanisme fakultas apabila tidak memiliki wakil di Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Indonesia. (lengkapnya silakan dibuka http:/dpm.ui.ac.id).

Mekanisme fakultas untuk Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) memiliki linimasa sebagai berikut:
  1. Pendaftaran dan pengisian berkas : 31 Desember 2016- 2 Januari 2017
  2. Pengumpulan berkas pendaftaran (via email) : 2 Januari 2017
  3. Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) dan pengumuman : 3 Januari 2017
Persyaratan lengkap dan dokumen (berkas) pendaftaran untuk calon perwakilan di DPM UI, bisa diakses dengan cara mengunjungi website DPM FIB pada link: http:/dpm.fib.ac.id.

Sampai hari terakhir penutupan pengumpulan berkas pendaftaran melalui email, terdapat dua mahasiswa yang mendaftar, pertama adalah Deka Anggawira (Program Studi Ilmu Perpustakaan 2015) dan yang kedua adalah Mirza Amadea (Program Studi Ilmu Sejarah 2013). Kedua calon tesebut, pada keesokan harinya yaitu pada tanggal 3 Januari 2017, datang ke ruang 9203 FIB UI (ruang DPM FIB) untuk mengikuti UKK. UKK dilaksanakan di ruang DPM, dimulai sekitar pukul 11 (mundur satu jam dari jadwal semula karena ada kesalahan teknis). UKK diawali dengan pembukaan sekaligus laporan dari Penanggungjawab Mekanisme Fakultas Pemilihan Perwakilan IKM FIB untuk DPM UI 2017 yaitu Ulfa Rodiah, Sekretaris Umum DPM FIB UI 2017. Setelahnya dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua DPM FIB UI 2017, Ahmad Faisal, Program Studi Arab 2014.

UKK dilaksanakan dengan sesi panelis dari awal hingga akhir sekitar pukul setengah dua siang. Panelis pada UKK tersebut berjumlah dua orang yaitu Achmad Alan Nuari (Anggota Independen DPM FIB UI 2016/Ketua Komisi Kaderisasi dan Regenerasi DPM FIB UI 2016/Program Studi Ilmu Sejarah 2013) dan M. Wildan Shalli R, S.Farm (Anggota Independen DPM UI 2016/ Farmasi 2012). Pertanyaan yang diajukan oleh panelis pertama (Achmad Alan) adalah pertanyaan seputar motivasi para calon maju sebagai perwakilan, grand design yang dibawa masing-masing calon, dan pengetahuan seputar legislasi di tingkat fakultas. Panelis kedua, yakni M. Wildan menanyakan seputar pengetahuan legislasi di tingkat kampus dan fokus kepada kehidupan DPM UI.

Setelah UKK selesai, para calon dipersilakan untuk meninggalkan ruang DPM untuk beristirahat sambil menunggu keputusan hasil UKK. Panelis memberikan pandangan terhadap kedua calon, dan keputusan akhir diserahkan kepada musyawarah Anggota Independen DPM FIB UI 2017, Ahmad Faisal dan Ulfa Rodiah. Hasil akhirnya, menetapkan bahwa yang berhak mewakili IKM FIB di tingkat DPM UI periode 2017 adalah Mirza Amadea. Rilis berita disampaikan di akun line resmi (Line@) DPM FIB UI dan akun instagram milik DPM FIB UI (@dpmfibui). Pengumuman hasil mekanisme fakultas tersebut menandai berakhirnya mekanisme fakultas yang dilaksanakan oleh DPM FIB UI tahun kepengurusan 2017.

-----

(*) Mekanisme fakultas baru pertama kali dilaksanakan pada tahun 2016 di FIB UI, tahun 2017 merupakan tahun kedua pelaksanaan mekanisme fakultas dan berhasil melahirkan satu perwakilan IKM FIB UI untuk berada di DPM UI.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...