Langsung ke konten utama

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965.

Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini:
....biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kalangan masyarakat terhadap gejala-gejala kemunduran yang kita alami dalam segala segi penghidupan bangsa kita, hingga jadi rusaklah nilai-nilai susila dan moral di negeri ini. Korupsi tiada lagi dianggap satu kejahatan, akan tetapi menjadi satu keahlian. Rasa tanggung jawab dan kewajiban dirasakan satu kebodohan belaka; janji-janji dan ucapan di depan umum dirasa tidak perlu ditepati, karena dianggap adalah suatu kecakapan politik untuk dapat mengelabui rakyat sebanyak mungkin. Masyarakat pasif, apatis, dan merasa tidak berdaya.*
 Hmmm, jika berkaca kepada kondisi sekarang.....sepertinya ada kesamaan kondisi di mana korupsi sudah begitu menjamur di negeri ini, dimulai dari korupsi yang kelas teri hingga kelas kakap, kondisi di mana sedang banyak-banyaknya janji politik disampaikan demi mendapatkan simpati masyarakat (pemilih) sebanyak-banyaknya agar bisa duduk menjadi pemimpin (katanya), dan masih banyak lagi kondisi yang sejatinya sungguh mengerikan dan memang sungguhan pula terjadi di negeri ini. Setidaknya, ketika Indonesia memasuki masa di mana posisi pemimpin tunggal begitu menguat, di saat itu (masih) ada sosok(-sosok) yang rela untuk terus mengingatkan, salah satunya (dan yang paling gencar) adalah Bung Hatta. Ditambah lagi, ketika tahun 1959 hingga 1965, Indonesia memasuki masa Demokrasi Terpimpin, di situ pula Bung Hatta masih terus melakukan aksi menulis surat-nya semata-mata untuk mengingatkan pemerintah saat itu agar tetap memperhatikan kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan pribadi apalagi kepentingan golongan, partai, atau kelompok-kelompok lainnya. 

Dan boleh jadi.....ketika saat ini negara kita terasa carut-marut kondisinya (meskipun dalam tataran, situasi, spasial, dan kondisi yang berbeda) semoga masih ada Bung Hatta lainnya yang rela melakukan aksi-aksi untuk senantiasa mengingatkan pemerintah agar bergerak sesuai jalannya, tidak berbelok apalagi berbalik. 

Satu lagi,,,,,dan ini hanya sebuah unek-unek yang tetiba muncul dan saya pilih untuk tuliskan.
Semoga bermanfaat! :)



*dalam buku Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno 1957-1965, halaman 27.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...