Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965.
....biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kalangan masyarakat terhadap gejala-gejala kemunduran yang kita alami dalam segala segi penghidupan bangsa kita, hingga jadi rusaklah nilai-nilai susila dan moral di negeri ini. Korupsi tiada lagi dianggap satu kejahatan, akan tetapi menjadi satu keahlian. Rasa tanggung jawab dan kewajiban dirasakan satu kebodohan belaka; janji-janji dan ucapan di depan umum dirasa tidak perlu ditepati, karena dianggap adalah suatu kecakapan politik untuk dapat mengelabui rakyat sebanyak mungkin. Masyarakat pasif, apatis, dan merasa tidak berdaya.*
Hmmm, jika berkaca kepada kondisi sekarang.....sepertinya ada kesamaan kondisi di mana korupsi sudah begitu menjamur di negeri ini, dimulai dari korupsi yang kelas teri hingga kelas kakap, kondisi di mana sedang banyak-banyaknya janji politik disampaikan demi mendapatkan simpati masyarakat (pemilih) sebanyak-banyaknya agar bisa duduk menjadi pemimpin (katanya), dan masih banyak lagi kondisi yang sejatinya sungguh mengerikan dan memang sungguhan pula terjadi di negeri ini. Setidaknya, ketika Indonesia memasuki masa di mana posisi pemimpin tunggal begitu menguat, di saat itu (masih) ada sosok(-sosok) yang rela untuk terus mengingatkan, salah satunya (dan yang paling gencar) adalah Bung Hatta. Ditambah lagi, ketika tahun 1959 hingga 1965, Indonesia memasuki masa Demokrasi Terpimpin, di situ pula Bung Hatta masih terus melakukan aksi menulis surat-nya semata-mata untuk mengingatkan pemerintah saat itu agar tetap memperhatikan kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan pribadi apalagi kepentingan golongan, partai, atau kelompok-kelompok lainnya.
Dan boleh jadi.....ketika saat ini negara kita terasa carut-marut kondisinya (meskipun dalam tataran, situasi, spasial, dan kondisi yang berbeda) semoga masih ada Bung Hatta lainnya yang rela melakukan aksi-aksi untuk senantiasa mengingatkan pemerintah agar bergerak sesuai jalannya, tidak berbelok apalagi berbalik.
Satu lagi,,,,,dan ini hanya sebuah unek-unek yang tetiba muncul dan saya pilih untuk tuliskan.
Semoga bermanfaat! :)
*dalam buku Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno 1957-1965, halaman 27.
Komentar
Posting Komentar