Kali ini masih melanjutkan (sekaligus menuntaskan) review salah satu buku karya Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah. Buku dengan tebal 471 halaman dan cover warna hitam, bergambar buah-buahan di mangkuk berbentuk seperti orang-orang yang sedang berpegangan. Oh iya, review bagian pertama bisa dibaca di sini.
Buku ini, menurut saya adalah buku yang bisa mengetuk hati kita. Di dalamnya terdapat kisah berhikmah yang berkaitan dengan kehidupan kita, sehingga ketika kita bisa memetik beberapa saja hikmahnya lalu diterapkan dalam kehidupan, dengan izinNya, boleh jadi kehidupan kita bisa berubah perlahan. Dalam review ini, saya ingin berbagi beberapa bagian yang cukup berkesan.
Pertama, soal cerita sebuah gelombang kecil di tengah lautan. Gelombang kecil yang memandang seiring bertambahnya ukuran gelombang akan berjalan ke tepian, menghantam karang-karang pantai dan hancur. Namun, gelombang itu disadarkan oleh gelombang yang lain bahwasanya "engkau bukanlah gelombang, engkau adalah bagian dari lautan." Cerita tersebut menyadarkan bahwa kita yang kecil adalah bagian dari kesatuan, memiliki peran-peran sejarah yang menghiasi kehidupan, dan tentu saja kita bernilai.
Kedua, soal rasa percaya. Di sebuah kelas diadakan latihan oleh seorang profesor bernama Profesor Morrie. Latihannya berupa menjatuhkan badan ke belakang, mempercayakan diri kepada teman-teman kelas yang berada di sana untuk menangkap tubuh yang jatuh tersebut. Hampir semuanya menjatuhkan diri dengan takut-takut, beberapa segera menjejakkan kaki karena takut tidak ada yang menyangganya di belakang. Berbeda dengan salah satu mahasiswi yang tanpa ragu, menyilangkan lengan di depan dada, memejamkan mata, dan menjatuhkan diri tanpa ragu-ragu. Beberapa kawannya secara cepat menahan pundak & kepala mahasiswi tersebut sehingga membuatnya tegak kembali, semua refleks bertepuk tangan. Profesor Morrie lalu berujar sambil menatap kepada mahasiswi itu dengan mata berbinar,
"Kau lihat, kau memejamkan mata. Itulah bedanya kadang-kadang kita tidak boleh percaya pada apa yang kita lihat. Kita harus percaya pada apa yang kita rasakan. Dan jika kita ingin agar orang lain mempercayai kita, kita juga harus merasa bahwa kita bisa mempercayai mereka, bahkan meski kita sedang berada dalam kegelapan bahkan ketika kita sedang jatuh." (hal.419)
Ketiga, sekaligus terakhir adalah tentang ukhuwah (persaudaraan) yang tak boleh berhenti dalam kata-kata. Pemahaman tentang ukhuwah menunggu untuk diimplementasikan dalam perbuatan.
Perjalanan membaca buku ini terasa begitu emosional, sesekali harus menahan air mata yang hampir jatuh, dan akhirnya jatuh juga. Merasa ditampar dan diajak untuk selalu berkaca di setiap bagiannya, apakah saya sudah memenuhi hak dan kewajiban dalam menjalin hubungan/ukhuwah/persaudaraan? Atau justru sebaliknya.
"Dipercaya, adalah satu penghargaan yang lebih tinggi dari sekadar dicintai. Sebab kepercayaan adalah penanda puncak bagi segala hubungan yang memungkinkan di antara para insan." - George MacDonald (hal. 417)
Lagi-lagi, semoga tak hanya berhenti dalam kata....:')
#bukaan
#bukuakhirpekan
#persekutuanbuku
#daripadadilemari
#DDU #dalamdekapanukhuwah
_____
Bogor, 30 Juni 2019

Komentar
Posting Komentar