![]() |
| Sumber: Dokumen Pribadi |
Buku kali ini adalah karya Salim A. Fillah (fyi, bukan nama asli beliau ini kalau saya tidak salah baca). Terbit pada tahun 2010 dengan penerbit Pro U Media. Buku ini saya dapatkan gratis, dari hasil berkunjung ke kosan salah seorang kawan (makasih Fatiim hehehe) yang waktu itu akan pindah karena sudah lulus dan akan bekerja di kota lain. Alhamdulillah, buku yang sebenarnya sejak lama saya ingin baca tetapi belum menemukan kesempatan untuk meminjam atau membelinya.... akhirnya, saya baca juga di beberapa waktu terakhir ini.
Membaca buku ini, dari mulai deskripsi di cover belakang, melihat daftar isi, dan membaca bagian satu ke bagian lainnya. Pada beberapa bab awal, saya akhirnya disuguhi renungan tentang proses ulat menjadi kupu-kupu dan biji yang tumbuh menjadi pohon berbuah manis yang hadir tiap musim. Memberi pesan bahwa muslim yang baik, layaknya seperti itu rela untuk berproses meski dalam keheningan-gelap-sempit untuk bisa memberikan manfaat bagi sekitarnya sekaligus menghadirkan keindahan. Cerita berikutnya soal asal-mula kita mengenal istilah 'narsis' yang seringkali diibaratkan sifat mengagumi bahkan takjub pada diri sendiri tetapi lupa untuk melihat apa yang bisa dikagumi dari orang lain. Mengingatkan kita kalau kita harus bercermin, bukan untuk mengangumi diri kita tetapi untuk memperbaiki cela dalam diri kita.
Sampai beberapa lembar halaman, banyak bagian yang saya garisi dalam buku ini. Saya pikir "bisa-bisa ini buku kegarisin semua karena penting pesannya". Banyak cerita lainnya disajikan dari satu bagian ke bagian lainnya.
Saya tiba di bagian lain (yang juga menjadi favorit), ketika dalam suatu forum ada seorang pembicara (usianya lebih muda dari kebanyakan peserta forum) dikritik habis-habisan oleh salah satu peserta yang ternyata sudah bergelar profesor. Di saat momen tersebut, sebenarnya bisa saja sang pembicara ini membalas dengan membantah kritik dari peserta tersebut (yang mengatakan kalau materinya tidak cukup ilmiah seperti omong kosong, dsb) dengan menampilkan data-data yang sudah dicantumkan dalam makalahnya. Namun, pembicara tersebut tidak melakukannya, ia malah berterima kasih kepada peserta yang sudah profesor itu dan tetap menghampirinya saat jeda forum untuk istirahat. Apa yang didapat? Pembicara dan peserta tersebut, akhirnya menjalin silaturahmi dengan baik karena tindakan yang ditunjukkan oleh pembicara membuat pelajaran yang berharga yakni soal akhlak yang terpuji. Cerita ini mengingatkan kita soal memilih tindakan saat menghadapi situasi yang tidak mengenakan bahkan menyakitkan bagi kita, akan menyakiti balik atau justru menerimanya dan membalasnya dengan kebaikan.
Bagian berikutnya, saya menemukan kutipan yang menjadi pengingat bagi saya (untuk dilakukan)
"...bahwa menjadi pembawa kebenaran tak boleh hanya memedulikan soal 'mengatakan yang benar'. Dia harus penuh perhatian untuk mengatakan yang benar, dengan cara yang indah, di saat yang paling tepat." (hal. 251)
....
Masih ada part lain yang akan saya review, so.....jika penasaran, simak reviewnya di waktu mendatang!
This is #bukaan #bukuakhirpekan yhaaa #daripadadilemari
_____
Bogor, Juni 2019


Komentar
Posting Komentar