Langsung ke konten utama

S8: Seminggu Sekali #6SuratuntukAdik(adik)


*aku hanya punya waktu kurang dari tiga menit untuk menuntaskan tulisan (singkat) ini, surat untuk adik(-adik), termasuk diriku sendiri*

Berawal dari renungan-renungan ketika sedang berada dalam perjalanan. Ada banyak hal yang sudah kita lalui, hal yang kita dapatkan, dan mungkin hal-hal yang justru tidak menjadi milik kita.
Mari kita syukurilah apa-apa yang saat ini (seolah) milik kita. Apapun. Mulai dari benda-benda yang mungkin mampu kita beli, kemampuan (bakat) yang kita miliki, kekurangan diri, hingga orang-orang terdekat kita saat ini.

Terkadang, kita hanya ingin mengetahui dan melihat apa yang memang (hanya) ingin kita ketahui dan apa yang ingin kita lihat. Namun, percayalah....pada waktu(-waktu) tertentu kita harus siap jika pada akhirnya kita mengetahui dan melihat apa yang justru tidak kita inginkan sama sekali.
Terkadang, kita merasakan perasaan yang tidak ingin kita munculkan sama sekali. Perasaan itu menjadi, membuat susah diri. Namun, yakinlah...perasaan itu hadir semata-mata untuk memberi sinyal pada hati, tuluskah perasaan lain yang katanya berasal dari hati dan menguji seberapa mampu diri memperluas hati.

Kita tidak (pernah) menjadi satu-satunya (?)
Percayakah? bahwa kita tidak pernah menjadi satu-satunya. Soal melakukan kebaikan, soal ingin mendapatkan perhatian, soal ingin mendapatkan hadiah(-hadiah), soal disayangi, soal ditemani, soal diberitahu, soal disemangati setiap hari, soal(-soal) lainnya yang masih banyak sekali.
Iya, soal banyak hal kita tidak pernah menjadi satu-satunya, kita hanya salah satunya.
Hanya saja kondisi itu bukan menjadi alasan lantas menyerah dan memilih untuk hanya mengurung diri sendiri. Jangan pernah lakukan.

__
Akhirnya, aku ingin menyampaikan terima kasih (banyak) untuk adik(-adik) yang senantiasa hadir dalam perjalanan ini. Terima kasih banyak sudah memberi banyak hikmah. Terima kasih untuk banyak hal lainnya yang kadang tidak terjelaskan (mungkin belum).


:)
_____
@ulfa.rodiah
Depok, Mei 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...