*aku hanya punya waktu kurang dari tiga menit untuk menuntaskan tulisan (singkat) ini, surat untuk adik(-adik), termasuk diriku sendiri*
Berawal dari renungan-renungan ketika sedang berada dalam perjalanan. Ada banyak hal yang sudah kita lalui, hal yang kita dapatkan, dan mungkin hal-hal yang justru tidak menjadi milik kita.
Mari kita syukurilah apa-apa yang saat ini (seolah) milik kita. Apapun. Mulai dari benda-benda yang mungkin mampu kita beli, kemampuan (bakat) yang kita miliki, kekurangan diri, hingga orang-orang terdekat kita saat ini.
Terkadang, kita hanya ingin mengetahui dan melihat apa yang memang (hanya) ingin kita ketahui dan apa yang ingin kita lihat. Namun, percayalah....pada waktu(-waktu) tertentu kita harus siap jika pada akhirnya kita mengetahui dan melihat apa yang justru tidak kita inginkan sama sekali.
Terkadang, kita merasakan perasaan yang tidak ingin kita munculkan sama sekali. Perasaan itu menjadi, membuat susah diri. Namun, yakinlah...perasaan itu hadir semata-mata untuk memberi sinyal pada hati, tuluskah perasaan lain yang katanya berasal dari hati dan menguji seberapa mampu diri memperluas hati.
Kita tidak (pernah) menjadi satu-satunya (?)
Percayakah? bahwa kita tidak pernah menjadi satu-satunya. Soal melakukan kebaikan, soal ingin mendapatkan perhatian, soal ingin mendapatkan hadiah(-hadiah), soal disayangi, soal ditemani, soal diberitahu, soal disemangati setiap hari, soal(-soal) lainnya yang masih banyak sekali.
Iya, soal banyak hal kita tidak pernah menjadi satu-satunya, kita hanya salah satunya.
Hanya saja kondisi itu bukan menjadi alasan lantas menyerah dan memilih untuk hanya mengurung diri sendiri. Jangan pernah lakukan.
__
Akhirnya, aku ingin menyampaikan terima kasih (banyak) untuk adik(-adik) yang senantiasa hadir dalam perjalanan ini. Terima kasih banyak sudah memberi banyak hikmah. Terima kasih untuk banyak hal lainnya yang kadang tidak terjelaskan (mungkin belum).
:)
_____
@ulfa.rodiah
Depok, Mei 2018

Komentar
Posting Komentar