Langsung ke konten utama

S8: Seminggu Sekali #4Renungan


Nasihat-nasihat yang berhasil dilontarkannya, tidak lain adalah nasihat untuk dirinya sendiri yang sempat seterjatuh dan setertatih itu mengkondisikan diri juga perasaannya ketika harus berhadapan dengan kondisi yang ia pikir sangat mustahil terjadi.

Iya, ia hanya berpikir sangat mustahil terjadi dan ia hanya berdoa semoga ketika itu sungguhan terjadi, ia cukup siap untuk menghadapinya.

Ketika hal itu terjadi, setidaknya ia cukup siap, tetapi tidak sesiap itu.

Ia ingat akan nasihat yang pernah ia terima beberapa tahun sebelumnya, "kita baru menyadari apa yang kita miliki setelah sesuatu itu nyaris diambil dari kita, maka cintailah sesuatu itu sebisa mungkin."

Ia baru menyadari bahwa selama ini bukan ia yang disakiti, ia adalah sumber awal kesakitan itu. Ia berharap terlalu banyak kepada yang jelas-jelas bukan tempat menggantungkan harapan. Ia sesak menerima hampir semua kenyataannya, ia lupa melatih untuk berlapang hatinya. Ia lupa, ia sangat lalai. 
Hingga sebuah penjelasan dan perenungan membuatnya tertohok, ia bertanya kepada dirinya "ke mana saja kau? Baru sadar?".


Bukan ia yang selalu gagal menemui, tetapi ia terlalu santai mengulur waktu hingga kesempatan untuk bertemu itu berlalu, momen untuk mendapatkan penjelasan itu akhirnya telanjur menjadi sesuatu yang tidak lagi ditunggu. Akhirnya, terasa terlambat.

Yang ia pertahankan pergi, tanpa ingin mengetahui penjelasan lebih jauh lagi. Ia sama kerasnya, hingga ketika bertemu hanya bertemu tanpa titik temu, hanya bisu.

Satu waktu, setelah bertemu, penjelasan itu tiba. Keputusan sesaatnya, ingin menjauh dari semuanya. 
Menjauh untuk seterusnya.
Sebagian motivasinya hilang.

Sampai pada satu titik ia diingatkan, bahwa ia tidak pernah benar-benar memilikinya, ia tidak pernah memilikinya, sama sekali. Semuanya hanya pinjaman, yang satu waktu nanti akan diambil oleh pemiliknya. 

Ia ternyata tidak sesiap ini. Hingga ketika terjadi, ia butuh waktu yang lama untuk membantu perasaannya pulih, tidak berharap banyak dan tidak berekspektasi lebih pada apa-apa yang benar-benar tidak pernah menjadi miliknya.

Semuanya hanya titipan.
Ketika sampai padamu suatu titipan, cukup jagalah dengan tanganmu, sekuatmu semampumu, tetapi jangan taruh ia di hatimu. Hatimu bukan untuk titipan itu, hatimu untuk Pemilik titipan sekaligus Pemilikmu dan hatimu.

Dari yang berharap memiliki seorang adik.

___
@ulfa.rodiah
Ciawi, Mei 2018 (terbit Depok, 9 Mei 2018)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...