Nasihat-nasihat yang berhasil dilontarkannya, tidak
lain adalah nasihat untuk dirinya sendiri yang sempat seterjatuh dan setertatih
itu mengkondisikan diri juga perasaannya ketika harus berhadapan dengan
kondisi yang ia pikir sangat mustahil terjadi.
Iya, ia hanya berpikir sangat mustahil terjadi dan
ia hanya berdoa semoga ketika itu sungguhan terjadi, ia cukup siap untuk
menghadapinya.
Ketika hal itu terjadi, setidaknya ia cukup siap,
tetapi tidak sesiap itu.
Ia ingat akan nasihat yang pernah ia terima beberapa
tahun sebelumnya, "kita baru menyadari apa yang kita
miliki setelah sesuatu itu nyaris diambil dari kita, maka cintailah sesuatu itu
sebisa mungkin."
Ia baru menyadari bahwa selama ini bukan ia yang
disakiti, ia adalah sumber awal kesakitan itu. Ia berharap terlalu banyak
kepada yang jelas-jelas bukan tempat menggantungkan harapan. Ia sesak menerima
hampir semua kenyataannya, ia lupa melatih untuk berlapang hatinya. Ia lupa, ia
sangat lalai.
Hingga sebuah penjelasan dan perenungan membuatnya tertohok, ia bertanya kepada dirinya "ke mana saja kau? Baru sadar?".
Hingga sebuah penjelasan dan perenungan membuatnya tertohok, ia bertanya kepada dirinya "ke mana saja kau? Baru sadar?".
Bukan ia yang selalu gagal menemui, tetapi ia
terlalu santai mengulur waktu hingga kesempatan untuk bertemu itu berlalu,
momen untuk mendapatkan penjelasan itu akhirnya telanjur menjadi sesuatu yang
tidak lagi ditunggu. Akhirnya, terasa terlambat.
Yang ia pertahankan pergi, tanpa ingin mengetahui
penjelasan lebih jauh lagi. Ia sama kerasnya, hingga ketika bertemu hanya
bertemu tanpa titik temu, hanya bisu.
Satu waktu, setelah bertemu, penjelasan itu tiba.
Keputusan sesaatnya, ingin menjauh dari semuanya.
Menjauh untuk seterusnya.
Sebagian motivasinya hilang.
Menjauh untuk seterusnya.
Sebagian motivasinya hilang.
Sampai pada satu titik ia diingatkan, bahwa ia tidak
pernah benar-benar memilikinya, ia tidak pernah memilikinya, sama sekali.
Semuanya hanya pinjaman, yang satu waktu nanti akan diambil oleh pemiliknya.
Ia ternyata tidak sesiap ini. Hingga ketika terjadi, ia butuh waktu yang lama untuk membantu perasaannya pulih, tidak berharap banyak dan tidak berekspektasi lebih pada apa-apa yang benar-benar tidak pernah menjadi miliknya.
Ia ternyata tidak sesiap ini. Hingga ketika terjadi, ia butuh waktu yang lama untuk membantu perasaannya pulih, tidak berharap banyak dan tidak berekspektasi lebih pada apa-apa yang benar-benar tidak pernah menjadi miliknya.
Semuanya hanya titipan.
Ketika sampai padamu suatu titipan, cukup jagalah
dengan tanganmu, sekuatmu semampumu, tetapi jangan taruh ia di hatimu. Hatimu
bukan untuk titipan itu, hatimu untuk Pemilik titipan sekaligus Pemilikmu dan
hatimu.
…
Dari yang berharap memiliki seorang adik.
___
@ulfa.rodiah
Ciawi, Mei 2018 (terbit Depok, 9 Mei 2018)

Komentar
Posting Komentar