Cerita ini tidak melulu tentang kita.
Bisa jadi cerita ini tentang (hanya) mereka, hanya
dia, hanya kalian, atau hanya cerita tentang kami, atau justru hanya aku.
Kita bukannya tidak lagi ingin saling bertemu, kita
boleh jadi hanya terlalu kelu untuk mengatakan atau sekedar menunjukkan bahwa
sama-sama merindu.
Aku yakin, kita hanya malu.
Malu karena yang kita bawa ke sana ke mari,
berhari-hari hingga berpuluh minggu hanyalah rindu yang menggebu.
Apa daya, malu lebih besar daripada rindu, hingga
kita satu sama lain memilih membisu.
Iya, semoga saja anggapanku tidak keliru, bahwa kita
hanya malu menunjukkan rindu.
Bukan sungguhan tidak ingin lagi bertemu.
Beberapa waktu lalu, aku memutuskan sesuatu.
Ingin menjauh dulu, mencari lingkungan baru.
Iya, sungguhan mencari lingkungan baru, agar aku
bisa menemukan diksi yang tepat untuk mengucap rindu. Agar aku bisa menunjukkan
bait-bait yang tepat dalam puisiku bahwa aku sungguhan rindu. Agar aku bisa
mencari inspirasi gerak untuk memperlihatkan, bahwa aku…rindu.
Sejenak kelabu menghiasi langit di sekitarku.
Lama, sampai kemudian beberapa saat berlalu,
berganti cerah pertanda hari baru.
Iya, aku masih berkutat dengan rindu itu sampai aku
memutuskan hal yang tabu.
Izinkan aku pergi dulu. Bukan, bukan pergi. Ralat.
Izinkan aku mencari lingkungan baru, bergeser arah
untuk membiarkan masing-masing kita memikirkan….bagaimana menerjemahkan rindu.
Percayalah, semua akan kembali. Semoga lebih baik
dari yang terdahulu.
Dari
yang masih gagap mengucap rindu.
Bogor, 21 Mei 2018

Komentar
Posting Komentar