Langsung ke konten utama

Review Buku: Kok Gitu Sih?




"Katanya Islam rahmatan Lil Aalamiin? Tapi muslim buang sampah sembarangan? Malah merusak alam""Itu ada tetangganya kelaparan ko diem aja? Katanya muslim diajarin buat peduli kepada sesama & harus berbagi?""Itu politisi Islam tapi ko korupsi?" 
*dan banyak pertanyaan atau pernyataan lainnya mempertanyakan soal berbagai perilaku yang dilakukan oleh muslim (orang Islam) tetapi sepertinya bertentangan dengan Islam itu sendiri.


Gimana kabarnya nih temen-temen? Hehehe. Semoga dalam kondisi yang selalu berusaha menjadi lebih baik ya!. Aamiin.



So, pekan ini saya review buku berjudul "Muslim Masa Gitu..?!" (ternyata bukan tetangga doang yang masa gitu ya,) karya ayah dan anak, yaitu Dr. Taufik Hasbullah dan Muhammad Yasser. Tebal buku ini sendiri sekitar 200 halaman (bukan lembar loh ya wkwk) dengan font tulisan berwarna biru *tenang, tetap nyaman dibaca ko. Cover bukunya sendiri bergambar cukup unik (ala-ala meme gitu) dan bahasa dalam buku ini pun mudah untuk dipahami. 

Pertama-tama, kenapa saya bisa baca buku ini?
Alasan paling pertama karena suatu hari saya pergi ke asrama temen saya yang akan pindah ke asrama lain. Terus karena dia mau beresin semua barangnya, termasuk buku-buku yang udah dia baca, akhirnya saya bantuin (bantuin doa aja sama ngeliatin wkwk) dan dia nawarin beberapa buku buat saya, suruh pilih dan saya pilih beberapa buku *dapet satu goodie bag wkwk. So, simpelnya....buku ini adalah buku bagus yang saya dapatkan secara gratis (makasih banyak Wid!).
Ditambah karena temen saya ini udah baca, saya tanya bukunya bagus apa engga walaupun sebenarnya saya udah tertarik karena judulnya yang menyentil banget. Temen saya bilang "bagus nih Ul, baca deh!". Sip, terpenuhilah beberapa alasan saya memilih buku ini untuk dibaca (& bisa saya review heheh).

Terus, berapa lama saya baca buku ini?
Hmmm persisnya gatau haha, yang jelas dalam satu pekan ini udah beres dan tibalah saatnya saya mereview. Baca bukunya selang-seling sih, karena mesti baca yang lain juga (emang, tidak fokus). Alhamdulillah, dalam perjalanan menggunakan kereta menuju Bogor buku ini akhirnya selesai dibaca. 

So, apa yang didapat dari buku ini? 
Saya rangkum jadi tiga hal ya hehe, biar enak aja.
Pertama, buku ini adalah sentilan bagi segenap muslim/ah (terkhusus saya). Apakah selama ini sudah sungguhan menerapkan apa yang diajarkan mengenai Islam, termasuk tata cara hidup dengan sesama makhluk di bumi. Contohnya adalah hal kecil tentang membuang sampah & saat berkendara. Apakah sebagai muslim sudah membuang sampah pada tempatnya? Apakah sebagai muslim sudah mematuhi aturan berkendara dengan sebaik-baiknya? 
Terus saya di dalem hati bilang "eh....masih suka ga pake helm kalo nebeng motor temen._." 
Kedua, buku ini mengajak segenap muslim untuk sadar bahwa sangat penting menjadi sosok yang terbuka, tidak asal menghakimi orang lain yang berbeda dengan kita baik secara tampilan bahkan pemikiran. Yaa sederhananya jangan merasa paling benar sendiri dan berhak untuk menilai orang sebagai A, B, atau Z. 
Ketiga, buku ini mengingatkan bahwa muslim yang baik bukan  berarti tidak peduli akan penghidupan dunia & hanya hidup untuk mencapai akhirat dengan hanya beribadah, tidak bersosialisasi, atau semacamnya...namun mengingatkan muslim agar tak terikat bahkan terlena dengan gemerlap dunia. Muslim harusnya mampu memaksimalkan potensi dunia agar bisa selamat di akhirat. Caranya? Yaa bisa dengan berbagai cara, berinfak yang terbaik di jalanNya, merawat anak yatim, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan masih banyak lagi.
Baca buku ini juga kaya diajak 'ngaca' banget sih, hehe.

Cmiiw ya!

Yap, ini untuk #bukaan #bukuakhirpekan kali ini....next apa lagi yaaa?


_____
Bogor, 14 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...