Langsung ke konten utama

RT: Tahun 2019?

Memasuki 2019, sepengalaman saya di berbagai kesempatan, berita, dan juga media sosial sekalipun...nampaknya kita sudah akrab dengan istilah "tahun politik". Tahun yang disebut-sebut sebagai tahun yang sangat kental dengan segala hal yang dianggap sebagai 'intrik' untuk memenangkan kontestasi yang juga kita sudah akrab, yakni pemilihan umum (pemilu).

Hanya saja, seiring perkembangan waktu pula agaknya kita terlalu terjebak dalam penyematan gelar 'tahun politik' untuk 2019, sehingga menurut saya...rawan betul jika berbagai agenda yang niat awalnya bukan untuk memenangkan salah satu kontestasi....malah 'dituduh' untuk agenda memenangkan kubu tertentu dalam kontestasi. Misalnya, muncul komunitas yang beragendakan pencerdasan mengenai politik yang tertuju kepada anak muda dan masyarakat umum...lantas dituduh sebagai komunitas 'settingan' sehingga para pegiat komunitas itu mengalami semacam hambatan dalam bergerak. Padahal, niatnya memang sungguhan melakukan pencerdasan.
Kasus lain, 'tahun' politik ini membuat masyarakat secara umum baik sadar ataupun hampir sadar... menjadi terpolarisasi (terpecah begitu) menjadi #timCebong, #timKampret, dan #timNetral. Ketiga segmennya tersebut (menurut saya) akhirnya bermuara pada hal yang sama....semacam terjebak dalam 'lingkaran setan' dan ujung-ujungnya malah tidak produktif. Sia-sia? Sangat.
Perlu bukti?
Silakan cek berita (online, cetak, maupun berita di televisi) atau bisa juga disimak afara-acara talkshow yang terlihat menghadirkan tokoh dari tiap tim tersebut. Secara umum, mungkin kita alan menemukan sesi di mana masing-masing merasa paling benar dan paling baik. Kesimpulan saya, yaa....bisa dibilang ini semua sebagai bukti bahwa masyarakat kita belum dewasa...hmm atau kejadian sampai detik ini jadi salah satu tahap untuk mencapai kedewasaan itu, semoga.

Lantas, kenapa saya menulis ini? Hanya menjabarkan masalah, tidak memberikan solusi.
Nampaknya saya dari awal tidak menawarkan solusi, pun saya tidak melabeli diri sebagai pihak yang solutif *wkwk* Akan tetapi, saya sebagai pribadi yang (semoga) memang sedang dalam tahap belajar, berusaha melihat semua yang terjadi...terkhusus dalam bingkai besar bernama "tahun politik" ini...menyarankan agar senantiasa objektif, tidak subjektif, atau parahnya menjadi fanatik. Jika ada hal-hal yang disampaikan oleh pihak manapun....ambil baiknya, ambil positifnya, jangan melihat "siapa" yang berbicara tapi "apa" yang disampaikan, sekalipun itu dari pihak yang mungkin kita tidak sukai.
Bisa ko :) selamat mencoba!

_____
Ulfa R.
Ciawi, Bogor, Jawa Barat, 16 Februari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...