Langsung ke konten utama

S9: Delegasi Indonesia untuk JENESYS 2018








 





Bandara Interasional Soekarno-Hatta, Senin sore tanggal 15 Oktober 2018 tepat pukul 17.00 WIB adalah tempat orang-orang ini bertemu. Orang-orang yang pada bulan ini diserahi amanah untuk menjadi Delegasi Indonesia dalam kegiatan Japan-East Asia Network of Exchange for Student and Youths (JENESYS) 2018. Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari ASEAN Inbound Program 7th Batch exchange for Environment, Disaster Prevention, and Environment Technology yang berlangsung dari tanggal 16 Oktober-22 Oktober 2018 di dua prefektur berbeda.

Delegasi Indonesia dalam kegiatan JENESYS 2018 pada batch ini terdiri atas sembilan orang. Komposisi dari delegasi tersebut berasal dari institusi yang berbeda dengan core competence yang berbeda dan diamanahkan untuk mendalami isu yang berbeda. (Selengkapnya terkait masing-masing delegasi bisa dilihat pada foto di atas). Fokus isu yang diangkat dalam program ini antara lain terkait lingkungan (environment), pencegahan bencana (disaster prevention), dan teknologi lingkungan (environment technology).  Isu tersebut diangkat karena dewasa ini permasalahan terkait lingkungan dan berkaitan dengan kebencanaan adalah isu yang serius, ditambah lagi di beberapa wilayah Asia dalam jarak yang waktu yang dekat baru saja terjadi bencana alam misalnya gempa yang terjadi di Kumamoto pada tahun 2016 dan terbaru bencana alam (gempa bumi dan likuifaksi) yang terjadi di Indonesia tepatnya di Lombok, Palu, dan Donggala. Sehingga isu yang diangkat merupakan isu teraktual dan sangat penting, karena bicara bencana berhubungan pula dengan kemanusiaan yang tidak terbatas pada batas-batas geografis.

Secara umum, kegiatan JENESYS 2018 batch ini berlangsung selama satu minggu penuh dengan agenda yang padat di setiap harinya. Delegasi tiba di Bandara Internasional Haneda pada hari Selasa, 16 Oktober 2018 sekitar pukul 06.00 waktu setempat (sama dengan wilayah Indonesia Bagian Timur), dari bandara Delegasi melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan pertama yaitu Tokyo Imperial Palace Plaza. Dari tempat tujuan pertama, perjalanan dilanjutkan ke Tokyu Rei Hotel di Tokyo untuk menyimpan barang selama kegiatan di Tokyo dan kegiatan berikutnya adalah makan siang dan berlanjut ke kegiatan orientasi di Toranomon Hills tidak jauh dari Hotel Tokyu Rei. Kegiatan orientasi terdiri atas sesi pemaparan program JENESYS dari Direktur Japan International Cooperation Center (JICE) dan pemaparan tentang ASEAN Cooperation on Environment dari Sekretariat ASEAN. Perjalanan delegasi berlanjut ke Kuil Asakusa (Asakusa Temple) yang berlokasi tidak jauh dari Menara Tokyo (Tokyo Tower).

Patung Kusunoki Masashige (Statue of Kusunoki Masashige) di Tokyo Imperial Palace Plaza (Dok.Pribadi)


Saat rombongan delagasi tiba di Tokyo Imperial Palace Plaza, 16 Oktober 2018 (Dok.Pribadi)

Salah satu gerbang masuk Kuil Asakusa (Dok. Pribadi).
Suasana di sepanjang kompleks perbelanjaan di sekeliling Kuil Asakusa, sore hari menjelang pukul 17.00 waktu setempat (Dok.Pribadi)
Perjalanan delegasi di hari pertama, ditutup dengan makan malam bersama di Restoran Origami. Di restoran tersebut, delegasi Indonesia berkesempatan bertemu dengan salah satu pelayan yang ternyata berasal dari Solo. Selesai makan malam, delegasi diantarkan kembali ke hotel  untuk bersiap-siap melakukan agenda lanjutan di keesokan harinya.

(to be continued.....)

#JICE
#JAPAN
#INDONESIA
#JENESYS2018

_____
@ulfa.rodiah
Depok, 18 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...