Langsung ke konten utama

S9: Seminggu Sekali #12Heuristik: Tentang Mencari dan Menemukan


Heuristik adalah tahapan awal dalam melakukan penelitian menggunakan metode sejarah. Tahapan lain setelahnya adalah kritik, interpretasi, dan terakhir adalah tahap historiografi atau penulisan sejarah. Heuristik adalah tahap awal di mana segala usaha harus benar-benar dikerahkan, untuk mencari semua sumber yang dibutuhkan dalam penulisan (yang sudah ditentukan di awal pastinya) sampai benar-benar menemukan, tidak sekedar mencari yang tidak pasti.

Ah iya, nampaknya bukan peneliti yang menggunakan metode sejarah saja yang harus menerapkan heuristic, semua manusia idealnya melakukan hal yang sama. Mencari sampai menemukan, apapun, mulai dari mimpinya sampai jalan jalan untuk menghidupkan mimpi-mimpinya. Menempuh jalan yang tidak terduga, menelusuri jalanan berbatu yang berlumpur berduri juga dihiasi semak belukar, hingga terbang entah ke mana mencari makna untuk setiap hal yang terjadi di dalam kehidupannya. Mencari dan menemukan, adalah serangkaian proses yang mungkin menuntut kita untuk belajar agar tidak pernah bosan mencoba, memperjuangkan berbagai hal, dan tentu saja mengambil hikmah di setiap jengkal perjalanan.



*karena berbagai hal, untuk dua minggu ini belum sempat mengupload tulisan tematik lagi, mohon doa supaya bisa kembali ke aktivitas semula yaa pembaca sekalian :)

_____
@ulfa.rodiah
Bogor, 29 Juli 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...