Langsung ke konten utama

S8: Seminggu Sekali #9Menghilang

"Menghilang!"


Yap!.
Satu...
Dua...
Tiga...
Terus engga ilang-ilang. Ya,,,karena engga betulan menghilang.
(Sumpeh ini random banget si)
_________
Beberapa hari ini, entah kenapa perasaan "merasa random" itu muncul. Merasa 'kesakitan' ketika akhirnya banyak hal yang harusnya engga dipikirkan sampai segitunya, ya tapi malah dipikirkan gitu loh. Bisa jadi hal yang terlalu receh atau sebaliknya....hal yang terlalu besar, walaupun untuk beberapa hal memikirkan hal besar itu perlu dan harus. Nah, salah satu yang dipikirkan itu soal...hmm sebut saja menghilang.

Menghilang?

Iya, menghilang. Kepikiran soal itu, nanya-nanya ke diri sendiri, gimana kalau saya menghilang dan seterusnya. Terus berhenti pada pertanyaan "apa yang berubah ketika saya menghilang?". Engga bisa dijawab sepenuhnya, belum ada jawaban yang memuaskan, dan mungkin memang kenyataannya demikian....siapa juga yang mau memikirkan apapun yang bakal kejadian ketika sesuatu menghilang. Kadang, memikirkan soal menghilang itupun dianggap mustahil, lalu ditanya "ngapain si?".

Saya sekelebat memikirkan soal menghilang itu diibaratkan seperti bintang. Iya, bintang. Bintang yang letaknya amat jauh, punya sinar sendiri, dan biasanya kita liat di malam hari, tapi padad pagi sampai sore justru bintang justru mengilang, engga tampak sama sekali. Saya ibaratkan ya menghilang itu kaya bintang. Engga benar-benar ngilang, cuma bicara waktu tertentu bintang engga terlihat, tapi percayalah sebenernya bintang tetap pada tempatnya, engga ke mana-mana, cuma emang sunguhan engga keliatan.....sampai waktu gilirannya datang baru deh keliatan lagi, aslinya bintang itu engga menghilang.
Cuma memang engga sesederhana itu sih :)


Jadi ingat soal kutipan dari sebuah novel, Tere Liye, apa-apa yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada.
Pun ya...soal menghilang, engga ada yang pernah benar-benar mengilang. Hanya soal waktu, nanti muncul lagi.

Gimana, apakah kamu tertarik buat 'menghilang?'

*ntms
_____
@ulfa.rodiah
Bogor, Juni 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...