Tulisan ini saya buat di tahun lalu (2017), ditujukan untuk memenuhi penugasan mata kuliah Penulisan Populer.
Selamat membaca! :)
Tahun
2017 merupakan satu tahun sebelum tahun memuncaknya banyak lobi politik
dilakukan untuk menyambut tahun pemilihan umum (pemilu) pada tahun 2019.
Memuncaknya lobi politik tersebut tentu saja tidak lepas dari berbagai
kepentingan yang jumlahnya tidak sedikit. Kepentingan tersebut dibawa oleh
berbagai pihak dengan (tentu saja) latar belakang yang berbeda dengan
kepentingan yang berbeda pula, hanya saja semua kepentingan tersebut biasanya
agak berbelok sedikit dari kepentingan umum yang seharusnya menjadi fokus dalam
berbagai agenda politik yang berhubungan dengan pelaksanaan negara.
Bicara politik tentu tidak hanya
bicara soal aktivitas yang berhubungan dengan pemerintahan, pengaturan
kepentingan, penyebaran kekuasaan, dan hal-hal formal lainnya. Bicara soal
politik artinya kita juga bicara soal aktor-aktor yang menjadi pelaku dalam
aktivitasnya, aktor politik biasanya dikenal dengan sebutan politikus.
Pengertian politikus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan ahli
politik, ahli kenegaraan, dan atau ornag yang berkecimpung dalam bidang
politik. Pengertian yang kedua adalah pengertian yang agaknya lebih pas untuk
konteks pembicaraan kita pada tulisan ini.
Menyinggung soal politikus, kita pun
akan menemui istilah yang lucu dan membuat kita bertanya-tanya. Salah satu dari
istilah itu adalah istilah kutu loncat. Sekilas, mendengar istilah kutu loncat
mungkin kita langsung teringat hama yang menyerang tumbuhan di persawahan atau
kutu yang ada pada hewan ternak sehingga menyebabkan kerusakan pada tumbuhan
atau gatal pada hewan ternak. Lain lagi dengan kutu loncat dalam ranah atau
bidang politik. Istilah kutu loncat dalam hubungannya dengan kehidupan berarti
orang yang menggantungkan hidupnya dengan menumpang dari satu orang ke orang
yang lainnya. jika dihubungkan ke dalam ranah politik, kutu loncat sering kali
dihubungkan dengan berpindah-pindahnya satu orang dari sebuah kubu atau koalisi
politik (lebih sering partai) ke kubu atau koalisi politik lainnya (partai
lainnya).
Fenomena kutu loncat dalam dunia
politik sering kali kita akan temui mendekati waktu pemilu atau waktu pasca
dilakukannya pemilu. Hal tersebut terjadi dikarenakan berbagai sebab, Sebab
tersebut dapat dibagi menjadi dua sebab internal dan juga sebab eksternal.
Pertama, sebab internal, ini meliputi alasan-alasan yang berasal dari kondisi
internal dan akhirnya menyebabkan seseorang atau pihak tertentu akhirnya
menjadi kutu loncat, salah satu dari sebab internal ini adalah terjadinya
perebutan kekuasaan yang hanya menguntungkan satu atau beberapa pihak saja,
biasanya pihak yang merasa dirugikan akhirnya memutuskan untuk melompat ke kubu
lain yang dirasa akan memberikan sesuatu yang lebih baik. Kedua, sebab
eksternal, sebab ini meliputi hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan faktor
internal. Contoh sebab eksternal ini adalah adanya tawaran-tawaran yang
menggiurkan dari koalisi di luar koalisi pihak yang diajak untuk pindah kubu.
Hal tersebut biasanya muncul karena pihak yang dilobi untuk pindah kubu ini
dipandang memiliki posisi strategis dan potensi yang menguntungkan. Sehingga,
jika lobi tersebut berhasil biasanya akan menyebabkan pihak yang tadinya berada
di kubu atau koalisi pertama pindah ke kubu lainnya jadilah disebut kutu
loncat.
Kutu loncat biasanya dipandang
negatif oleh masyarakat luas, namun hal tersebut tidak berlaku bagi pihak yang
menjadi kutu loncat atau pihak penerima sang kutu loncat. Pihak-pihak yang
biasanya menjadi kutu loncat cukup percaya diri dengan pilihan tindakannya. Hal
tersebut tentu erat kaitannya dengan keuntungan yang diperoleh dan sangat
berdampak positif bagi kehidupan pribadi, orang-orang terdekatnya, maupun bagi
kelompoknya.
Menurut salah satu berita di situs
Detik News, terdapat lima politisi kutu loncat yang beruntung (dalam tulisan
ini akan disebutkan tiga saja). Pertama, Lili Chodidjah Wahid yang dipecat oleh
PKB dari DPR RI kemudian memutuskan pindah ke Partai Hanura dan mendapatkan
tiket ke Senayan melalui maju sebagai Caleg di dapil Jatim II. Kedua, Akbar
Faizal, Anggota DPR dari Hanura lalu memutuskan pindah ke Partai NasDem.
Ketiga, effendi Choirie sama seperti Lili Wahid, didepak dari PKB dan kemudian
pindah ke Partai Hanura dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi caleg dengan Dapil Jatim X.
Terlepas dari siapa yang pernah
menjadi kutu loncat di antara politisi yang ada di negara kita, ada baiknya
kita untuk berusaha mengambil pelajaran dari fenomena tersebut. Adanya kutu
loncat kadang justru menjadi tanda ada yang tidak beres di kondisi internal
partai, kubu, atau koalisi partai politik dan hal tersebut menjadi peringatan
untuk segera melakukan perbaikan-perbaikan. Pun, kita juga masih harus percaya
dengan istilah bahwa dalam politik tidak ada kawan dan lawan abadi, yang abadi
adalah hanya urusan kepentingan. Yang terpenting, terlepas dari politik, kita
pun harus yakin jika tidak semua hal yang terjadi itu baik tetapi kita selalu
bisa megambil hal-hal baik dari semua hal yang terjadi.
(diposting dalam rangka berbagi sepenggal pikiran yang masih sangat dangkal. Kritik dan saran sangat diharapkan)
_______
@ulfa.rodiah
Depok, Juni 2018

Komentar
Posting Komentar