Langsung ke konten utama

S8: Seminggu Sekali #8KutuLoncat

Tulisan ini saya buat di tahun lalu (2017), ditujukan untuk memenuhi penugasan mata kuliah Penulisan Populer. 
Selamat membaca! :)

Tahun 2017 merupakan satu tahun sebelum tahun memuncaknya banyak lobi politik dilakukan untuk menyambut tahun pemilihan umum (pemilu) pada tahun 2019. Memuncaknya lobi politik tersebut tentu saja tidak lepas dari berbagai kepentingan yang jumlahnya tidak sedikit. Kepentingan tersebut dibawa oleh berbagai pihak dengan (tentu saja) latar belakang yang berbeda dengan kepentingan yang berbeda pula, hanya saja semua kepentingan tersebut biasanya agak berbelok sedikit dari kepentingan umum yang seharusnya menjadi fokus dalam berbagai agenda politik yang berhubungan dengan pelaksanaan negara.


Bicara politik tentu tidak hanya bicara soal aktivitas yang berhubungan dengan pemerintahan, pengaturan kepentingan, penyebaran kekuasaan, dan hal-hal formal lainnya. Bicara soal politik artinya kita juga bicara soal aktor-aktor yang menjadi pelaku dalam aktivitasnya, aktor politik biasanya dikenal dengan sebutan politikus. Pengertian politikus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan ahli politik, ahli kenegaraan, dan atau ornag yang berkecimpung dalam bidang politik. Pengertian yang kedua adalah pengertian yang agaknya lebih pas untuk konteks pembicaraan kita pada tulisan ini.

Menyinggung soal politikus, kita pun akan menemui istilah yang lucu dan membuat kita bertanya-tanya. Salah satu dari istilah itu adalah istilah kutu loncat. Sekilas, mendengar istilah kutu loncat mungkin kita langsung teringat hama yang menyerang tumbuhan di persawahan atau kutu yang ada pada hewan ternak sehingga menyebabkan kerusakan pada tumbuhan atau gatal pada hewan ternak. Lain lagi dengan kutu loncat dalam ranah atau bidang politik. Istilah kutu loncat dalam hubungannya dengan kehidupan berarti orang yang menggantungkan hidupnya dengan menumpang dari satu orang ke orang yang lainnya. jika dihubungkan ke dalam ranah politik, kutu loncat sering kali dihubungkan dengan berpindah-pindahnya satu orang dari sebuah kubu atau koalisi politik (lebih sering partai) ke kubu atau koalisi politik lainnya (partai lainnya).

Fenomena kutu loncat dalam dunia politik sering kali kita akan temui mendekati waktu pemilu atau waktu pasca dilakukannya pemilu. Hal tersebut terjadi dikarenakan berbagai sebab, Sebab tersebut dapat dibagi menjadi dua sebab internal dan juga sebab eksternal. Pertama, sebab internal, ini meliputi alasan-alasan yang berasal dari kondisi internal dan akhirnya menyebabkan seseorang atau pihak tertentu akhirnya menjadi kutu loncat, salah satu dari sebab internal ini adalah terjadinya perebutan kekuasaan yang hanya menguntungkan satu atau beberapa pihak saja, biasanya pihak yang merasa dirugikan akhirnya memutuskan untuk melompat ke kubu lain yang dirasa akan memberikan sesuatu yang lebih baik. Kedua, sebab eksternal, sebab ini meliputi hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan faktor internal. Contoh sebab eksternal ini adalah adanya tawaran-tawaran yang menggiurkan dari koalisi di luar koalisi pihak yang diajak untuk pindah kubu. Hal tersebut biasanya muncul karena pihak yang dilobi untuk pindah kubu ini dipandang memiliki posisi strategis dan potensi yang menguntungkan. Sehingga, jika lobi tersebut berhasil biasanya akan menyebabkan pihak yang tadinya berada di kubu atau koalisi pertama pindah ke kubu lainnya jadilah disebut kutu loncat.

Kutu loncat biasanya dipandang negatif oleh masyarakat luas, namun hal tersebut tidak berlaku bagi pihak yang menjadi kutu loncat atau pihak penerima sang kutu loncat. Pihak-pihak yang biasanya menjadi kutu loncat cukup percaya diri dengan pilihan tindakannya. Hal tersebut tentu erat kaitannya dengan keuntungan yang diperoleh dan sangat berdampak positif bagi kehidupan pribadi, orang-orang terdekatnya, maupun bagi kelompoknya.

Menurut salah satu berita di situs Detik News, terdapat lima politisi kutu loncat yang beruntung (dalam tulisan ini akan disebutkan tiga saja). Pertama, Lili Chodidjah Wahid yang dipecat oleh PKB dari DPR RI kemudian memutuskan pindah ke Partai Hanura dan mendapatkan tiket ke Senayan melalui maju sebagai Caleg di dapil Jatim II. Kedua, Akbar Faizal, Anggota DPR dari Hanura lalu memutuskan pindah ke Partai NasDem. Ketiga, effendi Choirie sama seperti Lili Wahid, didepak dari PKB dan kemudian pindah ke Partai Hanura dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi caleg dengan Dapil Jatim X.

Terlepas dari siapa yang pernah menjadi kutu loncat di antara politisi yang ada di negara kita, ada baiknya kita untuk berusaha mengambil pelajaran dari fenomena tersebut. Adanya kutu loncat kadang justru menjadi tanda ada yang tidak beres di kondisi internal partai, kubu, atau koalisi partai politik dan hal tersebut menjadi peringatan untuk segera melakukan perbaikan-perbaikan. Pun, kita juga masih harus percaya dengan istilah bahwa dalam politik tidak ada kawan dan lawan abadi, yang abadi adalah hanya urusan kepentingan. Yang terpenting, terlepas dari politik, kita pun harus yakin jika tidak semua hal yang terjadi itu baik tetapi kita selalu bisa megambil hal-hal baik dari semua hal yang terjadi.


(diposting dalam rangka berbagi sepenggal pikiran yang masih sangat dangkal. Kritik dan saran sangat diharapkan)
_______
@ulfa.rodiah
Depok, Juni 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...