Langsung ke konten utama

Sedang Demotivasi?

Dokumen Pribadi, edit.


Kalau ingin membuat semua orang senang, jangan jadi pemimpin. Jadi tukang jualan es krim aja.
 Kiranya itu yang saya tangkap dari pembicaraan singkat dengan seorang kaka, ketika dilanda kebingungan menghadapi berbagai macam tipikal orang yang harus diakomodasi keperluannya. Jika melakukan ABC, yang lain seperti DEF tidak terakomodasi kebutuhannya. Jika melakukan DCF, sisanya ABE tidak terakomodasi, sedangkan kondisinya kita harus memilih tiga saja di antara enam. Akhirnya, terpaksa, harus ada yang berkorban dan dikorbankan(?). Yang jelas, dari pilihan tersebut selalu memiliki resiko masing-masing, yang membedakan hanya besar dan kecilnya resiko yang diterima. Apalagi, ketika bicara dalam konteks yang berhubungan dengan pemimpin, kepemimpinan dan hal-hal yang berkaitan dengannya, kita amat erat dengan keharusan menyenangkan semua orang, padahal hal tersebut merupakan sebuah utopis yang kemungkinannya belum pernah mencapai 100%.
....

  Mencapai atau lebih spesifiknya mewujudkan mimpi yang sudah dibuat di awal memang rasanya mudah. Berikutnya, kondisi sebaliknya terjadi, ternyata mewujudkan mimpi tidak se---mudah itu. Butuh usaha lebih dan amat banyak untuk memastikan semua elemen yang nantinya harus berperan dalam mewujudkan mimpi itu bergerak. Tantangan mewujudkan mimpi semakin berat ketika ternyata kita tidak benar-benar tahu apa yang harus kita lakukan untuk menujunya. Waktu-waktu berikutnya menyiksa bayangan bahwa mimpi yang akan kita wujudkan semakin jauh dari kenyataan.
Lantas, ketika kondisinya begitu....kita harus apa?

Pertanyaan yang kemudian saya temukan dengan tak sengaja jawabannya, saya temukan jawaban itu ketika membuka sebuah folder berisi beberapa hasil keisengan dengan menggunakan aplikasi Paint di laptop. Gambar sederhana dengan tulisan....

Disuruh nunggu.....
Lalu saya diam sejenak, ada benarnya juga, ya. Baiklah.

Mungkin, kita disuruh nunggu ketika masih banyak usaha-usaha yang kita lakukan belum berbuah hasilnya.
Mungkin, kita disuruh nunggu ketika ternyata banyak hal-hal yang sampai hari ini belum bisa kita selesaikan atau bahkan belum sanggup untuk kita mulai.
Mungkin, kita disuruh nunggu ketika kita merasa sudah berusaha untuk menjadi seorang (pemimpin(?)) yang baik tapi ternyata tidak banyak menghasilkan apa-apa bahkan nihil hasilnya.
Boleh jadi, kita disuruh nunggu sambil terus mengisi waktu menunggu itu dengan segala kemampuan dan juga kemauan yang masih kita miliki. Toh, hidup ini mungkin akan lebih banyak disuruh nunggu ketika kita tidak mampu bergerak barang sedikitpun.

Iya, semoga dengan disuruh nunggu itu....ada kebaikan yang kemudian lahir karena kita tak hanya berhenti lalu menunggu dan membiarkan tangan berpangku.
Semoga, dengan disuruh nunggu itu ada hal-hal yang kemudian lebih kita pikirkan sebelum kita katakan atau kita lakukan.

Semangat, ya!
Disuruh nunggu.....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...