Langsung ke konten utama

Di manakah Kita Berada?

Masalah, sesuatu yang kadang dihindari atau kadang terpaksa kita pilih untuk hadapi, karena tidak ada pilihan lain.

Masalah, yang kemudian menjadi awal untuk kita mencari, berjuang, melawan, mengumpulkan, memindahkan, mengerahkan segala usaha kita untuk mencari solusinya. Karena bicara masalah, bukan hanya tentang adanya pertanyaan unuk kita jawab, tetapi adanya pernyataan yang harus kita buktikan kebenarannya.

Kita tinggal di negara yang memiliki ujung barat kota Sabang dan batas timur Merauke, memiliki pulau-pulau yang jumlahnya amat banyak, lebih dari tiga belas ribu (pulau yang belum diberi nama). Negara dengan lautan yang membentang luas dan ditaburi dengan berbagai pulau, mulai dari pulau Sumatra di sebelah barat dan Papua di sebelah timur. Negara yang berada di salah satu wilayah strategis lalu lintas perdagangan dunia, Asia dan Australia. 
Oleh karenanya, menjadi negara sasaran dalam berbagai urusan yang menyangkut hajat hidup banyak orang, termasuk hajat hidup negara adidaya sekelas Amerika Serikat.

Negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam dan merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, bersanding dengan RRC, India, dan juga Amerika Serikat. Negara dengan potensi besar untuk bisa mendapatkan bonus demografi di beberapa tahun mendatang. Negara dengan potensi sumber daya alam yang amat unggul di samping sumber daya manusianya yang dapat melebihi unggul.
Oleh karenanya, segala sumber daya yang dimilikinya sedang dalam incaran banyak pihak, mulai dari sumber daya di laut, tanah, hingga udara.
......

Dengan segala kondisi yang ada, di dalam negeri....kondisi yang amat memprihatinkan sedang terjadi. Konflik, satu hal yang mewakili segala permasalahan yang menjadi pekerjaan rumah yang dari hari ke hari ternyata bukan berkurang, melainkan bertambah. Konflik dari sesama kalangan elit, hingga kalangan menengah bawah yang akhirnya harus menguras tenaga yang seharusnya dimanfaatkan untuk urusan lain yang lebih bermanfaat dari sekedar berkonflik.

Perjalanan konflik yang terjadi di Indonesia, tidak baru dimulai kemarin sore. Konflik itu, sudah ditanam jauh-jauh hari, bahkan beratus tahun yang lalu. Konflik yang ditanam memanfaatkan kondisi masyarakat yang rentan diadu domba. Masyarakat kelas pejabat, priyayi, dan pemimpin suku digaet untuk bisa melawan kelompok masyarakat lainnya yang tidak mau digaet dan dijadikan sekutu.
Bagi yang teguh pendiriaannya, siap-siap untuk hidup yang amat pahit di tengah ancaman untuk dimusnahkan. Bagi yang mau bergabung, dimanjakan dengan kekayaan yang seolah lebih baik dari sebelumnya.

Sampai di hari ini, warisan dari berbagai benih konflik yang ditanam saat masa lalu, masih harus tumbuh dan mungkin sudah mencapai tahap sedang subur-suburnya. Konflik yang muncul dari aktivitas politik, merambah ke isu-isu golongan dan (berusaha) dikait-kaitkan oleh para oknum ke isu terorisme, separatisme, dan bahkan ke isu anti-nasionalisme. Padahal.....sepertinya kenyataannya tidak begitu adanya.
Akhirnya, fokus kita teralihkan dari awalnya berfokus ke kesejahteraan rakyat kecil, keadilan untuk orang-orang yang terdzalimi, menuju ke (sebatas) perbicangan seputar pembagian kekuasaan-perebutan kekuasaan-dan hal-hal lain menyangkut kekuasaan. Semua perbincangan yang dengan percaya diri mengatasnamakan rakyat kecil. Padahal (mungkin) bukan suara mereka yang kita suarakan.

Semuanya, boleh jadi, sudah terjadi bahkan sedang terjadi.
Semuanya, sedang ditonton oleh para oknum yang dengan senang hati siap menjadi pahlawan untuk kekacauan yang akan kian luas dan membesar.

Dalam kondisi demikian.....ada pertanyaan yang harus kita buktikan jawabannya:
Di manakah kita berada?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...