Pertama kali saya melihat judul buku itu adalah ketika suatu
waktu membuka instagram dan sebuah postingan dari akun milik Amar Ar-Risalah
muncul. Melirik sekilas judulnya agak menarik. Postingan open order buku terbarunya, Taman
Kehidupan. Mulanya hanya terpikir untuk sekadar kepo saja dengan hal apa yang
ditulis dalam buku tersebut, biasanya akan terjelaskan dari beberapa postingan
ke depan dalam rangka open order bukunya. Hingga tiba di open order kedua, setelah
mempertimbangan beberapa hal dan saya pikir akhir-akhir ini belum membeli buku
dan butuh untuk membaca buku yang baru, akhirnya saya memutuskan untuk ikut
memesan buku bersama rekan satu asrama. Setelah itu, saya tidak memikirkan
kapan buku itu sampai dan akan seperti apa bentuknya.
Sekian waktu berlalu, buku yang sudah dipesan datang juga, dengan packaging yang cukup rapi, beberapa buku dalam satu kotak kardus ala-ala hampers disertai beberapa kantung kecil yang ternyata berisi bibit tanaman, ada bibit kangkung dan cabai. Hal pertama yang saya lakukan ketika menerima bukunya, “wah menarik ada hadiah bibitnya! Nanti nanem ah…”.
Sampai akhirnya
tiba di waktu paling menegangkan dan paling cepat, membuka bungkus buku!
(setelah saya diamkan bukunya di atas kasur sekitar dua hari dan sejenak
meminjam buku milik rekan asrama sambil mengomentari beberapa hal).
Bukunya saya timbang-timbang dan langsung saya buka lembar
pertamanya. Saya mengernyitkan dahi, melanjutkan membaca halaman berikutnya dan
berikutnya. Melihat sekilas lembar demi lembaran buku sambil tetap menelisik
dan melihatnya dengan saksama. Lalu…
“covernya lumayan sih, warnanya soft-soft gitu”
“etapi, ini fontnya kok gini deh…kebanyakan jenis font.
Terus ini (nunjuk salah satu tulisan yang ukurannya agak besar) kok pake font
ini deh…tulisannya kaya baca jurnal, jadi agak puyeng gitu (ketauan deh suka
pusing baca jurnal wkwk).”
…masih lanjut,
“hmm terus gambarnya gimana gitu ya,,,dikira kaya gambar
berwarna gitu atau pake jenis kertas yang beda.” Masih dengan gaya sok iye jadi
komentator buku orang lain, padahal belum tentu bisa bikin karya yang lebih
bagus.
“wkwk nanti deh dibaca, sekarang kaya belum tertarik buat baca gitu, pusing, meskipun gaboleh sih ya judge a book by the cover.”
Setelahnya buku itu saya taruh lagi di antara antrian buku target baca tahun
2020 dan 2021.
***
10 Maret 2021, akhirnya setelah perjuangan tersendat-sendat
membangkitkan minat baca, saya selesai juga menamatkan buku “Taman Kehidupan”.
Yang pada awalnya saya tidak tertarik, setelahnya saya merasa “ga adil dong ya
ga baca buku gegara designnya tidak sesuai ekspektasi wkkw”, so ‘tugas’ baca
ini harus diselesaikan setelah itu saya akan coba review.
Bagi saya, buku TI ini adalah spoiler Sirah Nabawiyah (sejarah Nabi) yang sejumlah di antaranya belum pernah kita (atau saya) baca. Atau mungkin bagian dari sirah Nabawiyah yang pernah kit abaca tapi lupa kita renungi hikmahnya, hanya kit abaca saja begitu tanpa merenungi lebih, mengapa demikian.
Kapan lagi kan di-spoiler-in? Wkwk. Hal ini juga yang akhirnya bikin
saya tetap meneruskan membaca karena saya yakin, setiap buku memiliki
pengetahuan baru yang akan saya butuhkan nantinya.
Berikutnya, masih tentang isi buku ini. Tentu saya seperti
banyak buku lainnya, buku hampir selalu berhasil jadi media pengingat kita
bahwa tidak pernah ada hal yang benar-benar baru. Kita hanya tidak tahu bahwa
kejadian hari ini, jauh ribuan tahun ke belakang sana pernah terjadi.
Contohnya, adanya tokoh munafik dalam barisan yang (terlihat) kokoh, ada pihak-pihak
yang memberontak saat pemimpin yang terpilih bukan berasal dari sosok yang satu
kubu, atau ada seseorang yang selalu bersama kita melakukan banyak hal baik
bersama kita ternyata di masa depan ia memutuskan menjadi pembelot. Ya
begitulah, kita diingatkan bahwa setiap detik hidup kita, selalu ada
kemungkinan terbaik dan sebaliknya.
Lalu, seperti sejumlah buku lainnya….di akhir saya selalu
melihat secermat mungkin sumber yang digunakan sebagai bahan referensi sebuah
buku. Ya, buku ini memiliki sumber penulisan yang jumlahnya tidak satu-dua-tiga
melainkan lebih dari 10 buku. InsyaAllah bukunya layak dijadikan sebagai sumber
‘spoiler’ bagi teman-teman semua yang ingin belajar hikmah melalui Sirah
Nabawiyyah.
***
Demikian, semoga tulisan ini cukup untuk dikatakan sebagai
usaha ‘melihat kembali’ sebuah buku yang bisa saja sebenernya lebih dari itu,
saya aja yang kurang.
CMIIW.
Bogor, 16 Maret 2021
@ulfa.rodiah


Komentar
Posting Komentar