Langsung ke konten utama

Review Buku: Cerita tentang Palestina

    Setelah sekian lama sudah tak pernah mereview buku/novel dan sejenisnya, Alhamdulillah akhirnya saya berkesempatan untuk melakukannya kembali. Review kali ini tentang novel yang ditulis Farah Qoonita (@qooonit) berjudul Nyala Semesta. 



Boleh jadi, tak banyak yang (ingin) tahu tentang potret sesungguhnya perjuangan yang sedang dilakukan oleh rakyat Palestina. Hal tersebut tentu bukan semata-mata karena ketidakingin tahuan akan kondisi Palestina, melainkan merasa ada hal lain yang dijadikan prioritas. Teh Farah Qoonita, berusaha menjadi satu di antara sekian orang (dan penulis) yang berusaha antimainstream, tidak hanya menjadi orang yang ingin tahu perjuangan Palestina, tapi berusaha mengedukasi sebanyak mungkin orang untuk setidaknya melirik bagaimana sebenarnya kondisi (perjuangan) di Palestina. 


Nyala Semesta, menghadirkan potret perjuangan sebuah keluarga yang mana sang ayah adalah pemimpin gerakan perjuangan Palestina, ibu pejuang, beserta empat orang anaknya yang dididik sebagai pejuang Palestina sejak kecil. Mushab, Yusuf, Hassan, dan Maryam. Mereka tumbuh di antara medan pertempuran yang dihadapi oleh Palestina bertahun-tahun lamanya. Kehidupan keluarga mereka jauh dari kata mudah. Mereka tak hanya berjuang untuk sekadar memikirkan "apa menu makan esok?", tapi lebih jauh mereka memikirkan bagaimana mereka bisa tetap berjuang melawan penjajah Israel dan membantu agar rakyat Palestina lainnya terbebas dari penjajahan tersebut.


Mushab, Yusuf, Hassan, dan beberapa pemuda lainnya menjadi murid salah seorang Syaikh yang merupakan seorang pejuang Palestina. Syaikh yang pernah 'menikmati' kehidupan penjara Israel bertahun-tahun. Mushab, salah satu di antara mereka, tak hanya menjadi murid kesayangan Syaikh, ia juga memiliki kecerdasan yang luar biasa dan hal tersebut membuat Mushab memutuskan untuk belajar jauh di perguruan tinggi luar negeri. Tujuannya untuk belajar di luar negeri tentu saja hanya satu, untuk kembali berjuang bersama di Palestina dengan segala ilmu yang nantinya akan didapat. Ternyata, perjuangan Mushab untuk berangkat menuntut ilmu jauh dari Palestina tak mudah. Banyak cobaan yang ia terima. 


Di sisi lain, 'perjuangan' dilakukan oleh Israel yang tak henti membombardir hingga memata-matai orang-orang berpengaruh dalam perjuangan Palestina. Shin Bet, organisasi intelijen Israel memasang alat penyadap canggih di Palestina dan mencoba menjebak Mushab yang berada di luar Palestina agar tak lagi terlibat dalam perjuangan menentang penjajahan Israel. 

....

Cerita di novel ini tak terduga, singkat (bagi saya kurang panjang), namun syarat akan pesan-pesan perjuangan yang dihembuskan jauh dari Palestina yang masih bergolak. Kisah yang disajikan juga merupakan hasil mengolah dari kejadian nyata di Palestina. Satu hal lain yang saya soroti adalah sumber-sumber penulisan dalam novel ini tak hanya diambil dari sudut pandang pro Palestina, melainkan sudut pandang yang pro terhadap Israel.


Terakhir, saya merekomendasikan kepada teman-teman untuk membaca novel ini. Yaa hitung-hitung langkah awal untuk sejenak saja mulai mau melirik apa yang terjadi (atau pernah terjadi) di Palestina.

.

.

Cmiiw

.

Wallahu alam. 

_____

@ulfa.rodiah

Depok, 17 November 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...