Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

S8: Seminggu Sekali #6SuratuntukAdik(adik)

*aku hanya punya waktu kurang dari tiga menit untuk menuntaskan tulisan (singkat) ini, surat untuk adik(-adik), termasuk diriku sendiri* Berawal dari renungan-renungan ketika sedang berada dalam perjalanan. Ada banyak hal yang sudah kita lalui, hal yang kita dapatkan, dan mungkin hal-hal yang justru tidak menjadi milik kita. Mari kita syukurilah apa-apa yang saat ini (seolah) milik kita. Apapun. Mulai dari benda-benda yang mungkin mampu kita beli, kemampuan (bakat) yang kita miliki, kekurangan diri, hingga orang-orang terdekat kita saat ini. Terkadang, kita hanya ingin mengetahui dan melihat apa yang memang (hanya) ingin kita ketahui dan apa yang ingin kita lihat. Namun, percayalah....pada waktu(-waktu) tertentu kita harus siap jika pada akhirnya kita mengetahui dan melihat apa yang justru tidak kita inginkan sama sekali. Terkadang, kita merasakan perasaan yang tidak ingin kita munculkan sama sekali. Perasaan itu menjadi, membuat susah diri. Namun, yakinlah...perasaan itu hadi...

S8: Selingan: Tidak Melulu tentang Kita (?)

Cerita ini tidak melulu tentang kita. Bisa jadi cerita ini tentang (hanya) mereka, hanya dia, hanya kalian, atau hanya cerita tentang kami, atau justru hanya aku. Kita bukannya tidak lagi ingin saling bertemu, kita boleh jadi hanya terlalu kelu untuk mengatakan atau sekedar menunjukkan bahwa sama-sama merindu. Aku yakin, kita hanya malu. Malu karena yang kita bawa ke sana ke mari, berhari-hari hingga berpuluh minggu hanyalah rindu yang menggebu. Apa daya, malu lebih besar daripada rindu, hingga kita satu sama lain memilih membisu. Iya, semoga saja anggapanku tidak keliru, bahwa kita hanya malu menunjukkan rindu. Bukan sungguhan tidak ingin lagi bertemu. Beberapa waktu lalu, aku memutuskan sesuatu. Ingin menjauh dulu, mencari lingkungan baru. Iya, sungguhan mencari lingkungan baru, agar aku bisa menemukan diksi yang tepat untuk mengucap rindu. Agar aku bisa menunjukkan bait-bait yang tepat dalam puisiku bahwa aku sungguhan rindu. Agar aku bisa mencari inspi...

S8: Seminggu Sekali #5Ramadhan!

Engga kerasa, sekarang sebenernya udah masuk hari ke tiga Ramadhan, 1439 Hijriyah. Banyak yang sepertinya masih engga jauh beda kaya hari-hari biasanya, masih belum libur, dan masih banyak tugas yang berhubungan dengan akademik kaya hari-hari sebelum Ramadhan, bedanya mungkin cuma waktunya yang jadi engga full layaknya hari-hari normal yang jamnya lebih panjang.  Ramadhan kali ini banyak hal yang beda dan kerasa lebih istimewa dari Ramadhan tahun sebelumnya. Banyak hal baru yang di tahun lalu engga ada, tahun ini ada. Kaya misalnya tahun ini ada deadline pengumpulan tugas artikel *wkwkwk*. Eh engga sih, tapi Ramadhan tahun ini cukup banyak diawali dengan sesuatu yang berkesan. Agenda Doa untuk Negeri yang diinisiasi oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kerohanian se-Universitas Indonesia pada tanggal 16 Mei 2018 menjadi kegiatan yang sangat berkesan buat saya pribadi, mungkin itu juga yang dirasakan oleh orang-orang yang hadir pada agenda doa tersebut. Iya, di tengah te...

S8: Seminggu Sekali #4Renungan

Nasihat-nasihat yang berhasil dilontarkannya, tidak lain adalah nasihat untuk dirinya sendiri yang sempat seterjatuh dan setertatih itu mengkondisikan diri juga perasaannya ketika harus berhadapan dengan kondisi yang ia pikir sangat mustahil terjadi. Iya, ia hanya berpikir sangat mustahil terjadi dan ia hanya berdoa semoga ketika itu sungguhan terjadi, ia cukup siap untuk menghadapinya. Ketika hal itu terjadi, setidaknya ia cukup siap, tetapi tidak sesiap itu. Ia ingat akan nasihat yang pernah ia terima beberapa tahun sebelumnya, " kita baru menyadari apa yang kita miliki setelah sesuatu itu nyaris diambil dari kita, maka cintailah sesuatu itu sebisa mungkin. " Ia baru menyadari bahwa selama ini bukan ia yang disakiti, ia adalah sumber awal kesakitan itu. Ia berharap terlalu banyak kepada yang jelas-jelas bukan tempat menggantungkan harapan. Ia sesak menerima hampir semua kenyataannya, ia lupa melatih untuk berlapang hatinya. Ia lupa, ia sangat lalai.  Hingga...
Karena menjauh bukan hanya soal jarak. Jarak yang begitu dekat tidak menjamin orang-orang tertentu tidak merasa jauh dan bahkan merasa asing sama sekali.