Eh, besok main yuk?
Eh iya, nanti belajar bareng di rumah si Fulan yuk?
Oiyaa, besok gue ke sana!
Iya sih rencananya nanti ngumpul bareng, datang ya!
(... terus pas mau deket waktu janjiannya, engga jadi.)
Pernah engga sih, ngalamin percakapan-percakapan kaya gitu? Entah secara langsung atau via obrolan grup atau mungkin via personal chat? Kalau saya, pernah. Entah itu posisinya sebagai orang yang melakukan (pelaku) atau jadi pihak yang jadi pihak lainnya (korban). Gimana perasaannya setelah ngalamin kejadian kaya gitu? Males? Marah? Apa ada reaksi lainnya? Kalau saya sih, pasrah aja sih, minta re-schedule tapi hehe.
Percakapan di atas saya refleksikan dari hal-hal yang saya alami sendiri dan cukup sering. Ya saking seringnya, ketika ada orang yang ngajak buat sesuatu beneran sampe harus memastikan dan nanya dulu kaya gini: wacana gak nih? *saking curiga dan khawatir sih lebih tepatnya. Bersyukur sih, setelah sering ditanya kaya gitu akhirnya bisa terealisasi, dengan perjuangan yang tidak semudah itu tentunya. Nanya dan memastikan follow-up kepada orang-orang yang diajak.
Soal wacana, penasaran ga sih arti wacana itu apaan? Kalau penasaran, di bawah ini saya ambilin dari kbbi.web.id
Eh iya, nanti belajar bareng di rumah si Fulan yuk?
Oiyaa, besok gue ke sana!
Iya sih rencananya nanti ngumpul bareng, datang ya!
(... terus pas mau deket waktu janjiannya, engga jadi.)
Pernah engga sih, ngalamin percakapan-percakapan kaya gitu? Entah secara langsung atau via obrolan grup atau mungkin via personal chat? Kalau saya, pernah. Entah itu posisinya sebagai orang yang melakukan (pelaku) atau jadi pihak yang jadi pihak lainnya (korban). Gimana perasaannya setelah ngalamin kejadian kaya gitu? Males? Marah? Apa ada reaksi lainnya? Kalau saya sih, pasrah aja sih, minta re-schedule tapi hehe.
Percakapan di atas saya refleksikan dari hal-hal yang saya alami sendiri dan cukup sering. Ya saking seringnya, ketika ada orang yang ngajak buat sesuatu beneran sampe harus memastikan dan nanya dulu kaya gini: wacana gak nih? *saking curiga dan khawatir sih lebih tepatnya. Bersyukur sih, setelah sering ditanya kaya gitu akhirnya bisa terealisasi, dengan perjuangan yang tidak semudah itu tentunya. Nanya dan memastikan follow-up kepada orang-orang yang diajak.
Soal wacana, penasaran ga sih arti wacana itu apaan? Kalau penasaran, di bawah ini saya ambilin dari kbbi.web.id
wacana/wa·ca·na/ n 1 komunikasi verbal; percakapan; 2 Ling keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan; 3 Ling satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah; 4 Ling kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; 5 pertukaran ide secara verbal;-- langsung Ling kutipan wacana yang sebenarnya dibatasi oleh intonasi atau pungtuasi;-- pembeberan Ling wacana yang tidak mementingkan waktu dan penutur, berorientasi pada pelaku dan seluruh bagiannya diikat secara logis;-- penuturan Ling wacana yang mementingkan urutan waktu dituturkan oleh orang pertama atau ketiga dalam waktu tertentu, berorientasi pada pelaku, dan seluruh bagiannya diikat secara kronologis
Gimana? Baru tau kan arti sesungguhnya wacana? Hehehe
Iya, jadi kalau menurut saya sih engga apa-apa kalau mau buat sesuatu atau mau melakukan sesuatu itu sekedar wacana dulu. Cuma, kurang baiknya ketika engga diwujudkan wacana tidak berarti apa-apa. Murni wacana, cuma percakapan aja, cuma ngomong aja, gitu.
***tadinya mau nulis yang agak serius gitu, tapi tetiba mentok. Jadi akhirnya nulis sesuatu yang ringan banget dan mungkin bikin gereget. **Yhaa saya nulis aja dulu sih ya, daripada wacana hehe. Makasih udah baca ya :)
Enjoy!
___
@ulfa.rodiah
Depok, 9 April 2018 (00.48 WIB)
Komentar
Posting Komentar