Langsung ke konten utama

Mencari Alat Perjuangan Baru

Dan senjata mereka secara umum bukan pedang, tombak atau senapan. Senjata mereka adalah koran dan majalah, selebaran, poster, arak-arakann atau pawai jalanan, rapat akbar, pertemuan massal, mogok, dan bokiot. Gagasan-gagasan, yang diungkapkan dengan kata-kata, dan organisasi merupakan senjata-senjata baru, serta setiap gagasan baru, yang diambil dari semua revousi, diungkapkan dalam pidato pemimpin-pemimpin baru. - Max Lane (Unfinished Nation)
 Zaman kita saat ini sudah jauh berubah dari zaman nenek-nenek moyang kita dulu. Dahulu masih akan kita jumpai segerombolan orang yang membawa senapan, bambu runcing, atau semacamnya untuk melawan penjajah yang mampir ke negeri ini. Namun, keadaannya sekarang sungguh lain dari waktu itu, perjuangan yang lain pula untuk menghadapi penjajah yang sudah bertrasformasi menjadi bentuk yang kekinian.

Generasi kita saat ini, memiliki tugas besar, amat besar. Mirip dengan apa yang dikatakan oleh Soekarno, bahwa perjuangan beliau itu lebih mudah karena perjuangan mengusir penjajah, tetapi perjuangan kita menjadi lebih sulit karena melawan bangsa sendiri (yang bisa kita katakan juga bahwa kita melawan diri sendiri). Bisa kita bayangkan bukan, bagaimana rasa (sulit)nya melawan diri sendiri? Melawan musuh yang memiliki kekuatan yang sama, pengetahuan yang sama, bahkan mungkin strategi yang sama (?).

Boleh jadi, melawan bangsa sendiri itu sedang kita lakukan sekarang. Bahkan mungkin perlawanan itu sudah ada sejak perjuangan melawan penjajah dan mengusirnya sudah selesai di masa awal kemerdekaan, bersamaan dengan masa itu pula perjuangan melawan bangsa sendiri dimulai. Melawan bukan (hanya) dengan senjata berat, tetapi dengan senjata yang lebih soft namun efeknya sungguh luar biasa. Melawan dengan kata-kata, tulisan-tulisan, dalam orasi-majalah-koran-dan semacamnya. Ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat, pembangunan yang tidak merata, eksploitasi kekayaan daerah untuk dibawa ke pusat, perebutan kekuasaan di berbagai tingkat dan daerah, dan hal-hal lainnya yang sesungguhnya mencerminkan betapa berat perjuangan kita karena yang kita lawan adalah saudara se-bangsa, se-tanah air kita sendiri.

Jika dipikirkan lebih lanjut, perjuangan kita akan terus lebih berat dari hari ke hari. Kejadian-kejadian sebagai bentuk melawan bangsa sendiri sejatinya dari hari ke hari terus meluas, bertambah banyak korban yang harus ikut serta di dalamnya, bukan hanya karena tergerak untuk ikut, tetapi lebih jauh lagi hanya karena bisa dianggap sudah cukup berjuang (padahal melawan saudara sendiri), dan lebih parahnya karena tidak tahu betul-tidak mengerti-dan tidak paham betul apa yang sebenarnya sudah dihadapi, intinya....yang penting berjuang. Sehingga dari hari ke hari, permasalahan tidak menjadi sederhana, tetapi menjadi lebih rumit dan panjang.

Kalau sudah demikian, harus apakah kita?

Mencari alat perjuangan baru. Iya, itu sepertinya yang bisa kita lakukan ketika kita dihadapkan pada pertanyaan harus (berbuat) apa. Tetapi, mencarinya tak sesederhana mengatakannya, namun tetap bisa kita sama-sama usahakan. Pertama-tama kita bangun dahulu pemahaman terkait masalah apa saja yang sedang kita hadapi dimulai dengan mendefinisikannya - menguraikannya. Setelahnya, kita lanjutkan dengan memetakan apa saja sumber daya yang kita punya untuk mengatasi permasalahan yang ada. Baru setelahnya,  kita lanjutkan dengan membangun solusi bersama yang berangkat dari kemampuan (dalam bentuk sumber daya) yang kita sudah petakan. Dan semuanya bisa berjalan-direalisasikan, ketika kita sama-sama memiliki pemahaman akan kondisi yang ada, bahwa di sekeliling kita ada permasalahan yang harus diselesaikan, ada perjuangan yang harus dilakukan, dan dibarengi usaha mencari alat perjuangan yang baru (yang sebenarnya tidak benar-benar baru), mencari dan membangun pemahaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...