Langsung ke konten utama

Belajar untuk Lebih Lelah

Memilih (?) untuk menjadi pemimpin(?) artinya merelakan diri untuk belajar jadi yang lebih lelah dari (si)apapun. Bukan semata-mata karena keharusan, tetapi lebih kepada menuntut kesadaran, bahwa kenyataannya menjadi pemimpin berarti siap dan rela menjadi yang paling lelah. Rela untuk mengorbankan lebih banyak tenaga, materi, dan hal-hal lainnya demi kebermanfaatan apa yang sedang dipimpinnya. Karena memimpin berbeda dengan berkuasa yang bisa meminta ini dan itu, mendapat ini dan itu dengan tidak perlu berlelah-lelah.

Memimpin artinya lebih bertanggung jawab. Sejauh ini, mungkin sering kita tidak sadar bahwa apa-apa yang kita lakukan meskipun hanya untuk diri sendiri adalah hal yang harus dipertanggungjawabkan. Apalagi, menjadi seseorang yang memimpin, artinya bertanggung jawab bukan hanya tanggung jawab untuk urusan diri sendiri, tetapi bertanggung jawab terhadap (si)apapun yang dipimpinnya. Dan itulah kenapa, pada akhirnya kita akan tiba pada kesimpulan bahwa memimpin berarti lebih bertanggung jawab, dan harus rela lebih lelah karenanya.

Memimpin artinya harus semakin banyak belajar. Tidak hanya satu hal yang menjadi fokus pemimpin. Pemimpin harus bisa mengetahui gambaran luas apa yang sedang dipimpinnya, apa-apa yang sedang dihadapinya, apa-apa yang telah, dan akan (mungkin) dihadapinya. Pemimpin harus bisa memberikan contoh seperti ini dan seperti itu agar siapa pun yang dipimpinnya bisa menirunya, segera. Semuanya, terangkum dalam sebuah keharusan....bahwa (lagi-lagi) pemimpin harus menjadi sosok yang siap untuk semakin banyak belajar, karena yang dihadapinya bukan masalah satu ilmu, tetapi berbagai persoalan yang berasa dari multi-disiplin ilmu.

Ya, dan dari semuanya...satu hal, pemimpin adalah mereka yang siap belajar untuk menjadi yang lebih lelah.

Kita, ma(mp)ukah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...