Memilih (?) untuk menjadi pemimpin(?) artinya merelakan diri untuk belajar jadi yang lebih lelah dari (si)apapun. Bukan semata-mata karena keharusan, tetapi lebih kepada menuntut kesadaran, bahwa kenyataannya menjadi pemimpin berarti siap dan rela menjadi yang paling lelah. Rela untuk mengorbankan lebih banyak tenaga, materi, dan hal-hal lainnya demi kebermanfaatan apa yang sedang dipimpinnya. Karena memimpin berbeda dengan berkuasa yang bisa meminta ini dan itu, mendapat ini dan itu dengan tidak perlu berlelah-lelah.
Memimpin artinya lebih bertanggung jawab. Sejauh ini, mungkin sering kita tidak sadar bahwa apa-apa yang kita lakukan meskipun hanya untuk diri sendiri adalah hal yang harus dipertanggungjawabkan. Apalagi, menjadi seseorang yang memimpin, artinya bertanggung jawab bukan hanya tanggung jawab untuk urusan diri sendiri, tetapi bertanggung jawab terhadap (si)apapun yang dipimpinnya. Dan itulah kenapa, pada akhirnya kita akan tiba pada kesimpulan bahwa memimpin berarti lebih bertanggung jawab, dan harus rela lebih lelah karenanya.
Memimpin artinya harus semakin banyak belajar. Tidak hanya satu hal yang menjadi fokus pemimpin. Pemimpin harus bisa mengetahui gambaran luas apa yang sedang dipimpinnya, apa-apa yang sedang dihadapinya, apa-apa yang telah, dan akan (mungkin) dihadapinya. Pemimpin harus bisa memberikan contoh seperti ini dan seperti itu agar siapa pun yang dipimpinnya bisa menirunya, segera. Semuanya, terangkum dalam sebuah keharusan....bahwa (lagi-lagi) pemimpin harus menjadi sosok yang siap untuk semakin banyak belajar, karena yang dihadapinya bukan masalah satu ilmu, tetapi berbagai persoalan yang berasa dari multi-disiplin ilmu.
Ya, dan dari semuanya...satu hal, pemimpin adalah mereka yang siap belajar untuk menjadi yang lebih lelah.
Kita, ma(mp)ukah?
Komentar
Posting Komentar