Langsung ke konten utama

POLITIK(?)

Politik? Apaan?
Males sama politik?
Kenapa sih harus ada politik?
Politik kotor!
Poitik jahat!
Gamau bersentuhan dengan politik ah!

Bicara politik, kadang menjadi hal yang begitu asing dan (boleh jadi) malah menakutkan bagi segelintir orang atau bahkan mungkin banyak orang, tetapi bagi segelinitir lainnya mungkin membicarakan politik adalah sebuah keharusan dan hal yang paling menarik dalam kesehariannya. Ko bisa ya?

Sebelum ke arah sana.....dan bahas ngalor-ngidul beserta kawan-kawannya, ku masukkan ke sini arti politik menurut KBBI (cari: kbbi.web.id).

politik/po·li·tik/ n




1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan)
 2 segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain;
 3 cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah); kebijaksanaan


berpolitik/ber·po·li·tik/ v menjalankan (menganut paham) politik; ikut serta dalam urusan politik;

memolitikkan/me·mo·li·tik·kan/ v menjadikan atau memasukkan ke dalam urusan politik;

memperpolitikkan/mem·per·po·li·tik·kan/ v memolitikkan;

pemolitikan/pe·mo·li·tik·an/ n proses, cara, perbuatan memolitikkan


Nah, kurang lebih begitulah politik, berurusan dengan pemerintahan dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya, berbagai macam urusan.
Sepertinya, yang (boleh jadi) paling dekat dengan kita adalah bahwa politik berkaitan dengan berbagai macam urusan. Bahkan, dalam salah satu tulisan dikatakan bahwa hidup dengan kelompok-kelompok pun termasuk praktik politik. Kenapa? karena dengan hidup berkelompok itu, artinya kita merasa nyaman dan berada dalam satu kepentingan dengan pihak lain yang juga berada dalam kelompok. Selain itu, dalam berkelompok tersebut kita pastilah berusaha untuk mengamankan kepentingan pribadi kita tanpa terganggu dengan kepentingan kelompok karena kepentingannya tidak jauh berbeda.
Dan ternyata, berpolitik itu bisa jadi sesederhana memilih menempatkan sesuatu sesuai dengan prioritas kita agar nantinya, di akhir, kita tetap mendapatkan apa yang kita inginkan.

Berkenaan dengan menempatkan sesuatu, teringat sebuah pelatihan di tahun 2014 lalu, ketika mengikuti Latihan Dasar Manajemen Kepemimpinan (LDMK) di FIB UI, di kelas Sosial-Politik. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, lalu oleh kaka pembimbing diberikan instruksi untuk menempatkan hal-hal yang ditulis di papan tulis sesuai dengan prioritas tiap kelompok. Beberapa hal tersebut di antaranya adalah Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Alam (SDA), Wilayah, pemerintahan, dan satu lagi saya lupa persisnya apa. Tiap kelompok menyampaikan hasil musyawarahnya, menyampaikan prioritasnya masing-masing dan tentu saja dengan alasan yang mendasarinya.
Selesai semua menyampaikan prioritasnya masing-masing, kaka pembimbing langsung mengatakan,
Selamat! Kalian sudah berpolitik!

Wow. Seisi kelas takjub, baru sadar, dan kemudian mengangguk saja sambil senyum-senyum mesem. Ternyata......politik sudah berlaku di tataran tes (atau apalah namanya) semacam itu.
Ya.....tapi, politik masih tentang banyak hal lainnya, dimulai dari hal paling sederhana hingga hal paling rumit sekelas konspirasi mungkin (?). Dan ini bukan analisis, hanya pendapat yang sedikit ngalor-ngidul. Mencoba mengeluarkan unek-unek yang beberapa hari sangat mengganggu pikiran.

Pesan: Selamat (belajar) politik!

Politik. Boleh jadi seperti ITIK. Gemay-gemay. Kecil-lucu-berbulu lembut. Tapi......suatu hari, ia bisa berubah menjadi kurang atau tidak gemay-tidak lucu sama sekali-bahkan berbulu (amat) kasar (meskipun sedikit terbantu adanya lapisan lilin, yang pada akhirnya membuatnya....licin). Ya, sebuah gabungan dari pol dan ITIK, hingga jadilah kata polITIK.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Nurani Melawan Kezaliman

Judul di atas merupakan judul buku yang pernah saya baca sekitar sebulan yang lalu, saya lupa persis tanggalnya. Buku tersebut merupakan buku yang memuat surat-surat milik Moh.Hatta atau biasa kita kenal dengan sebutan Bung Hatta yang ditujukan langsung kepada partner-nya, belahan dwi-tunggalnya, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno atau kita kenal dengan sebutan Bung Karno. Surat-surat yang ditulis Bung Hatta kepada Bung Karno tersebut ditulis ketika Bung Hatta sudah resmi mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pada tahun 1957. Surat tersebut ditulis dalam jangka waktu kuran-lebih delapan tahun dimulai sejak tahun 1957 sampai tahun 1965. Terdapat salah satu kutipan menarik pada salah satu halaman bukunya, tepatnya di halaman 27, bunyinya begini: .. ..biar saja pemimpin-pemimpin yang berkuasa sekarang berbuat apa saja dan mau ke mana sesuka hati mereka, dan akan berpaling dari pemimpin-pemimpin yang menipu mereka selama ini....terlihat kurang sekali perlawanan yang aktif di kal...

S9: Seminggu Sekali #14Wisuda!

Toga, kebaya, kemeja, rektor, pidato, dan foto-foto boleh jadi adalah hal-hal yang akan diingat ketika kita mulai bahas tentang wisuda. Wisuda, momen di mana jadi ajang untuk memberi apresiasi kepada orang-orang tercinta, terdekat, atau tersayang yang sudah menuntaskan masa studinya baik di strata satu, magister, bahkan doktoral. Nah, sebenarnya ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang wisuda. Apa aja sih? Pertama, pengertian daripada wisuda itu sendiri....kalau menurut ke KBBI ( cek di sini )sih: wi.su.da n   peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat Biasanya, wisuda juga bukan cuma untuk di perguruan tinggi (menyambut mahasiswa baru dan melepas mahasiswa lama) tapi biasa dipakai juga untuk wisuda para tahfidz (penghapal Quran) bahkan sampai wisuda taman kanak-kanak. Pada dasarnya, wisuda bukanlah hal yang wajib banget tapi untuk merayakan sekaligus menjadikan momen kelulusan berikut menyambut kembali agaknya wisuda menjadi salah ...

S9: #DARIBUKU: Berlatih untuk Bodo Amat

Mengalami dan merenungi (atau mungkin merefleksikan) tentang menjadi dewasa adalah dua hal yang berbeda. Mengalami menjadi dewasa nampaknya adalah hal mau tidak mau akan dialami oleh semua orang, disadari atau tidak. Berbeda halnya dengan merenungi tentang menjadi dewasa. Saya pikir, merenungi tentang menjadi dewasa adalah hal yang boleh jadi tidak dilakukan oleh setiap orang, hal tersebut mungkin dilakukaan oleh mereka yang menjadikan tentang menjadi dewasa lebih dari sekedar hal yang pasti, tapi lebih dari itu. Tentang menjadi dewasa....kita akan menapaki fase yang tentu saja tidak biasa. Kita akan tiba pada suatu fase di mana perasaan kita begitu diuji. Perasaan asing, merasa sendiri, merasa jauh dengan orang-orang yang dahulunya pernah dekat, dan berbagai perasaan lainnya. Ketika perasaan itu tiba, akhirnya kita pun cepat atau lambat akan menyadari tentang akar dari perasaan itu adalah rasa peduli yang masih kita tempatkan ke berbagai hal, hal-hal detail maupun hal-hal besar. ...