Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

S8: Seminggu Sekali #3Pulang

Hari berlalu tanpa menunggumu. Suara-suara berlalu, tanpa peduli terdengar atau tidak suaramu. Meski tersisa peluh dan lidah yang kelu. Semuanya segera dan cepat meninggalkanmu. Kau ingin ini dan itu. Kau ingin melakukan hal seperti ini dan seperti itu. Hari, minggu, bulan, hingga puluh tahun berlalu. Banyak kesempatan tak tiba kepadamu, hanya angin lalu. Kau ingin mengulang. Kau ingin menerjang. Kau ingin mencoba, kembali berjuang. Sayangnya, kau tidak bisa mengelak......kau harus pulang. Iya, pulang. Tidak bisa mengulang. Hanya bisa berharap sedalam-dalamnya, agar semua yang kau lakukan bernilai di mata-Nya. ___ @ulfa.rodiah Depok, April 2018

S8: Seminggu Sekali #2TemanLelah

**efek keteteran, terus akhirnya posting tulisan di folder yang pernah dikirimkan untuk seleksi calon mentor Orientasi Kehidupan Kampus Universitas Indonesia (OKK UI) 2017. Gambaran sedikit soal mentor di mata seorang calon mentor.             Mentor bagi saya adalah teman lelah. Ia yang bersedia untuk menghibahkan waktu, tenaga, juga hal-hal lainya untuk membersamai dan membimbing orang lain. Ia yang kemudian lagi bersedia untuk rela membagi dirinya untuk tak hanya mengurusi urusannya sendiri, tetapi mengurusi orang lain (yang dalam hal ini adalah para mentee -nya). Ia yang siap untuk sama-sama lelah dengan (bahkan) orang yang baru saja ia kenal dan tiap detiknya ia berusaha untuk mengenali orang asing yang baru saja ia kenal, lalu ia relakan dirinya untuk disebut mentor.             Lalu, bicara soal pencapaian terbesar dalam hidup saya untuk sampai saat ini adalah mampu menginjak semeste...

S8: Seminggu Sekali #1Wacana

Eh, besok main yuk? Eh iya, nanti belajar bareng di rumah si Fulan yuk? Oiyaa, besok gue ke sana! Iya sih rencananya nanti ngumpul bareng, datang ya! (... terus pas mau deket waktu janjiannya, engga jadi.) Pernah engga sih, ngalamin percakapan-percakapan kaya gitu? Entah secara langsung atau via obrolan grup atau mungkin via personal chat? Kalau saya, pernah. Entah itu posisinya sebagai orang yang melakukan (pelaku) atau jadi pihak yang jadi pihak lainnya (korban). Gimana perasaannya setelah ngalamin kejadian kaya gitu? Males? Marah? Apa ada reaksi lainnya? Kalau saya sih, pasrah aja sih, minta re-schedule tapi hehe . Percakapan di atas saya refleksikan dari hal-hal yang saya alami sendiri dan cukup sering. Ya saking seringnya, ketika ada orang yang ngajak buat sesuatu beneran sampe harus memastikan dan nanya dulu kaya gini:    wacana gak nih? * saking curiga dan khawatir sih lebih tepatnya. Bersyukur sih, setelah sering ditanya kaya gitu akhirnya bisa terealisasi, ...
 “We’re here for a reason. I believe a bit of the reason is to throw little torches out to lead people through the dark.”   — Whoopi Goldberg (*) (*)goodreads